[FICLET] Regret

Author : cherry_blossom
Main Cast :

- Kim Rae In ( OC )

- Kai / Kim Jong In ( EXO K )

Other Cast : Find it by yourself
Genre : Life, Angst, Friendship
Rating : G
Type : Ficlet
Lenght : 2207 Words
Disclaimer :
Ini cerpen yg pernah author baca dan author angkat jadi FF, tapi ada beberapa yg author ubah kata” nya…
Credit poster to FBlue


Comment After Read

***

Rae In berjalan dengan penuh percaya diri melewati lorong-lorong kelas yang pintunya tertutup. Semua murid sudah berada di kelas mereka masing-masing, tidak dengan Rae In. Di depannya berjalan Pak Ji Hoo wali kelas di kelas barunya nanti. Beliau akan menemani Rae In menuju ke kelas barunya. Mereka berhenti di depan kelas yang pintunya juga tertutup. Melihat sebuah papan bertuliskan XI.2 di atas pintu, Rae In yakin kalau itulah kelas baru yang akan ia tempati untuk waktu ke depan.

Pak Ji Hoo membuka pintu, suara gaduh dari dalam kelas yang tadi terdengar sampai keluar, kini tiba-tiba hening dalam sekejap. Semua kembali duduk ke tempat mereka masing-masing dan menatap ke arah pintu.

“Ayo masuk” ajak Pak Ji Hoo untuk masuk ke dalam kelas.

Rae In tersenyum dan mengikuti langkah Pak Ji Hoo tanpa ragu di belakangnya. Semua mata kini tertuju padanya dan Rae In menyadarinya. Ia mengembangkan senyumannya untuk memberikan kesan pertama yang baik.

“Selamat pagi anak-anak” salam Pak Ji Hoo meletakkan tas dan bukunya di atas meja dan Rae In berdiri di sampingnya.

“Pagi Seonsangnim” sahut semua murid tidak kompak karena ada yang menjawabnya dengan baik tapi ada juga yang menjawab dengan malas dan ada yang sengaja di panjangkan.

“Bapak akan mengumumkan sesuatu untuk kalian. Hari ini kita kedatangan teman baru di kelas ini”

“Teman baru stok lama yah Pak?” celetuk salah satu murid di barisan belakang.

Rae In meliriknya dan tersenyum, dia mendapati seorang anak laki-laki hitam dan kurus di ujung sana. Rae In jelas tahu, sebagai murid baru dia pasti akan di kerjai di awal perkenalan dengan ejekan-ejekan iseng atau pertanyaan-pertanyaan yang sama sekali tidak ada hubungan dengannya. Ayahnya yang bertugas sebagai pejabat di Pemerintahan, seringkali di pindahtugaskan lain kota. Jadi, itu membuat Rae In mau tidak mau harus sering berpindah-pindah sekolah. Terhitung sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar hingga sekarang, dia sudah lima kali pindah Sekolah.

“Suruh memperkenalkan diri dong, Pak. Jangan di suruh jadi pajangan gitu” cetus seorang anak perempuan berambut ikal yang duduk di barisan paling depan.

“Kim Rae In, teman-temanmu ingin kamu memperkenalkan dirimu” ucap Pak Ji Hoo menatap Rae In.

“Ne..” Rae In mengangguk. “Selamat pagi semuanya, perkenalkan Kim Rae In imnida. Aku pindahan dari SMA Satu Bangsa”

“Satu Bangsa? Kalau dua bahasa ada?”

“Ko nama Sekolahnya kayak lirik lagu kebangsaan negara tetangga sih?”

“Kalau SMA satu, dua tiga ada ga?”

“Yang sekolah di sekolah kamu ada berapa ribu murid? Sampai-sampai satu bangsa gitu, ckckckck…”

Sambar seorang anak laki-laki. Rae In menoleh ke arahnya, namun ia tiba-tiba terkejut. Bukan karena melihat anak laki-laki yang menyambar tadi yang membuatnya terkejut, tapi karena ia melihat sosok wajah yang sangat ia kenal yang duduk di belakang anak laki-laki tadi. Wajah itu masih terekam jelas di ingatan Rae In, Rae In pernah bersumpah dalam hatinya aklau ia tidak akan pernah memaafkan orang itu kalau persoalan di antara mereka belum terselesaikan.

Hampir dua puluh menit Rae In berdiri di depan kelas. Ia seperti patung yang sedang jadi bahan ejekan teman-temannya. Namun Rae In tidak terlalu menanggapinya serius. Mata Rae In hanya terus tertuju pada anak laki-laki itu yang seolah tidak menghiraukan kehadirannya di depan sana dengan berpura-pura serius membaca bukunya.

“Yang duduk di pojok sana siapa namanya?” tanya Rae In pada teman sebangkunya, setelah akhirnya dia di persilahkan duduk oleh Pak Ji Hoo.

Teman sebangku Rae In itu menoleh ke arah yang di tunjuk Rae In.

“Oh..dia? Namanya Kim Jong In. Lebih baik kau jangan mencoba untuk bergaul dengannya. Dia anak laki-laki paling aneh di Sekolah ini, sering sekali bolos, tidak pernah bayar uang SPP, tidak mau di ajak bicara oleh siapapun, makannya tidak ada yang mau sebangku dengannya”

“Tch..pantas saja, lagipula siapa yang akan sudi duduk sebangku dengan seorang pencopet” umpat Rae In dalam hatinya.

***

Seminggu sudah Rae In sekolah di sekolah barunya, ia sudah mulai bsia beradaptasi dengan lingkungan barunya. Park Hyo Jin teman sebangkunya sering mengajak Rae In untuk istirahat bersama.

“Kemana si anak aneh itu? Dua hari ini aku tidak melihatnya” Rae In menyantap Mie di depannya saat istirahat bersama di kantin dengan Hyo Jin.

“Molla…paling-paling dia bolos lagi, sudah tidak ada yang mau memperdulikan keberadaannya. Lagipula dia ada di kelaspun kami merasa dia tidak ada” jawab Hyo Jin ketus.

Keinginan Rae In untuk menghampiri Jong In sudah membuncah, tatkala ia melihat Jong In hari ini akhirnya sudah masuk kembali dan sekarang dia sedang duduk di taman sekolah saat istirahat.

“Masih ingataku?” tanya Rae In tanpa basa-basi.

“….” Jong In tidak menjawab, sibuk membaca buku yang di pegangnya.

“Namaku Kim Rae In” Rae In menekankan nada bicaranya.

“Aku tahu, bukankah kau yang memperkenalkan dirimu di depan kelas saat kau pertama masuk?” jawab Jong In tanpa menoleh.

“Bukan itu maksudku, tapi apa kau ingat kalau kita pernah bertemu sebelumnya di Stasiun Dongdaegu? Tepatnya tiga minggu yang lalu?” suara Rae In meninggi.

“Mungkin saja, stasiun itu tempat umum sudah pasti akan banyak orang yang kau temui, bukan aku saja”

“Tapi bukan itu masalahnya, kau? Kau orang yang sudah mencuri hapeku, kan?” Rae In mulai emosi.

“……” Jong In tidak menjawab, ia membuka halaman berikutnya dari buku yang sedang di bacanya.

“Jangan mengelak lagi, aku yakin sekali kau orangnya” Rae In merebut buku yang sedang di baca Jong In itu.

“Lantas apa maumu?” tanya Jong In menatap Rae In dingin.

“Tentu kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu”

Jong In bangkit dari duduknya dan menatap Rae In lekat, Rae In terkejut dan ia mundur selangkah menjauhi Jong In.

“Memang berapa sih harga hapemu itu? Kau pasti bisa membelinya lagi, kan? Uang orangtuamu banyak, kau bsia meminta lagi pada mereka. Dasar orang kaya jaman sekarang begitu pelit” Jong In merebut kembali bukunya dari Rae In.

MWO? Dia bilang apa? Tch….mudah sekali dia bicara, dia yang mencuri kenapa malah dia yang emosi? Nappeun namja….” umpat Rae In kesal di tempatnya.

“Yak…chakkaman….” teriak Rae In memanggil Jong In.

Jong In tidak menoleh, dia bergegas masuk ke dalam kelasnya. Rae In berniat untuk mengejar, tapi Hyo Jin menghadangnya mengajaknya untuk ke kantin.

***

Pukul dua siang, sekolah sudah bubar sedaritadi. Rae In masih berdiri di depan Halte Bis, matahari yang terik menyoroti tubuh mungilnya dengan ganasnya, membuatnya berkeringat. Ia sudah merasa tidak nyaman dengan pakaiannya yang terasa basah dan lengket. Rae In menoleh ke arah kanan, tidak ada satupun Bis yang melintas, jalanan siang itu pun sudah sangat sepi. Hanya beberapa mobil yang terlihat berlalu lalang di sana.

Empat puluh menit kemudian, Rae In memutuskan untuk naik kereta di Stasiun Dongdaegu. Meskipun dia harus naik Bis lagi setelah sampai di Stasiun berikutnya, tapi itu pilihan terbaik di banding dia harus rela tubuhnya terpanggang di sana.

Rae In lega akhirnya ia tidak terlambat untuk naik kereta terakhir ke Busan. Ia melihat bangku kosong yang bisa ia duduki, namun ia terkejut ketika matanya melihat seseorang yang selalu membuat emosinya naik dalam seketika.

“Ternyata dunia benar-benar sempit yah? Aku bisa bertemu denganmu lagi di sini” Rae In duduk di samping orang itu. Di amatinya orang itu, di pangkuannya ada kardus yang di potong setengah dan beberapa botol minuman.

“Untuk apa lihat-lihat?”

“Bagus juga topeng kamu, pura-pura jualan minuman di dalam kereta ternyata itu hanya sampinganmu saja. Pekerjaanmu yang sebenarnya adalah mencopet” Rae In mendelik tajam.

“Jaga ucapanmu” jawab Jong In pelan dan wajahnya memucat dalam seketika karena beberapa dari penumpang melirik ke arahnya dengan tatapan curiga.

“Aku salah satu korabnmu” suara Rae In meninggi.

Jong In terdiam, beberapa penumpang yang lain kini ikut menatap ke arah Jong In. Bahkan Ibu paruh baya yang duduk di sebelah Jong In pun kini memegang erat tasnya.

“Puas kau membuatku malu di depan umum?” umpat Jong In setelah mereka turun di Stasiun berikutnya.

“Masih punta urat malu juga? Aku kira pencuri seperti kamu tidak akan pernah punya urat malu” cibir Rae In.

Jong In berlalu meninggalkan Rae In yang belum puas memakinya.

“Yak..tunggu, aku belum selesai bicara” Rae In mengejar Jong In yang mempercepat langkahnya.

Jong In tdiak menghiraukan Rae In yang sudah berdiri di sampingnya.

“Kembalikan Hapeku dulu” Rae In menengadahkan tangannya.

“Sudah ku jual” jawab Jong In singkat.

“Tch..enteng sekali kau bicara?” Rae In mendecak.

Emosinya memuncak melihat sikap Jong In yang tanpa dosa seperti itu.

“Baiklah, akan aku beri pelajaran kau” umpat Rae In dalam hatinya.

“Tolooooooong ada copeeet!!!! Toloooong….” teriak Rae In histeris.

“Yak….apa yang kau lakukan?” Jong In menatap Rae In kalut.”Aku bisa mati” Jong In mulai ketakutan dan pergi meninggalkan Rae In.

“Mana pencopetnya?” tanya seorang pria bertubuh kekar pada Rae In.

“Itu…pria yang memakai baju kotak-kotak biru itu, yang menjual minuman” Rae In menunjuk Jong In yang sedikit berlari.

“Kurang ajar, masih bocah sudah berani mencuri”

“Ayo kejar dan tangkap dia”

Suasana tiba-tiba menjadi gaduh dan riuh, beberapa orang mengejar Jong In dan sekarang mengelilinginya saat Jong In sudah tertangkap.

“Mau lari ke mana kau bocah tengik?” ucap salah seorang pria hitam pada Jong In yang berdiri panik.

“Sudah, jangan tunggu lagi. Hajar saja bocah ini”

“Benar, habisi saja dia. Pencuri seperti dia tidak boleh di biarkan hidup”

“Ampun…ampun, saya bukan pencopet. Dia hanya bercanda” Jong In berusaha berontak dari kerumunan.

Di tempat lain, Rae In tersenyum puas melihatnya.

“Rasakan pembalasanku, Kim Jong In” bisiknya dalam hati dan berlalu meninggalkan Jong In yang di hajar tanpa ampun oleh orang-orang itu.

***

Pukul tujuh lewat lima belas menit, Rae In masuk ke dalam kelasnya dengan langkah semangat. Semua bangku sudah terisi dengan para murid, tapi suasana terasa sangat hening tidak seperti biasanya.

“Hyo Jin-ah, waegurae?” tanya Rae In pada Hyo Jin dan meletakkan tasnya di meja.

“Jong In meninggal”

Rae In terlonjak dari tempat duduknya.

“Tidak mungkin, kau pasti sedang bercanda, kan?” tanya Rae In tidak percaya.

“Anhi Rae In-ah, ini benar. Kemarin sore dia meninggal di hajar massa karena ketahuan mencopet” ucap Hyo Jin sendu.

“Kasihan dia, meskipun aku tidak menyukainya, tapi aku juga sedih jika dia harus mati dengan cara seperti itu. Betapa tidak adilnya hidup pada zaman sekarang, pencopet ketahuan bisa di hajar sampai mati. Tapi para koruptor ketahuan mencuri uang rakyat bertriliunan, masih bisa tertawa-tawa di depan Camera” rutuk Hyo Jin kesal.

Rae In terdiam, ia terhenyak di bangkunya.

***

“Kami ini memang orang miskin, tapi bibi tidak percaya jika Jong In sampai mencopet” isak Ibu Jong In di rumahnya bercerita pada Rae In.

Ibu paruh baya dan kurus itu, kembali menyeka air matanya yang membasahi pipinya. Di sampingnya duduk ketiga anaknya yang lain yang masih sangat kecil. Wajah ketiga anak itu begitu memelas.

“Sekitar tiga minggu yang lalu dia memang sempat membawa uang banyak dan bibi sempat bertanya padanya, tapi ia hanya mengatakan kalau ia mendapatkan uang itu dari temannya yang meminjamkan padanya. Dia terpaksa meminjam uang itu untuk berobat adiknya yang sakit” Ibu Jong In memeluk anaknya yang paling kecil,

Rae In tertunduk dalam, ia yakin kalau uang itu pasti hasil dari hapenya yang di jual Jong In. Andai saat itu Jong In berterus terang padanya, Rae In pasti akan merelakan hapenya dan tidak akan memperpanjang masalah itu.

Ibu Jong In menghela nafas panjang.

“Ayah Jong In meninggal sekitar empat tahun yang lalu, semenjak itu Jong In lah yang menjadi tulang punggung keluarga ini. Dia juga membantu biaya sekolah adik-adiknya dengan berjualan minuman di lampu merah dan Kereta Api, sehingga dia sering bolos sekolah dan ia sendiri tidak pernah membayar uang SPP nya. Jong In pernah mengatakan kalau dia tidak ingin sekolah lagi, dia ingin bekerja saja agar bisa mendapatkan uang banyak, tapi bibi melarangnya karena sekolahnya juga penting baginya. Siapa sangka ternyata sekarang dia….” tangis Ibu Jong In kembali memecah.

Diam-diam, Rae In menyeka air bening di kedua ujung matanya. Ia sadar, karena dirinyalah Jong In pergi. Mungkin jika saat itu ia tidak meneriaki Jong In sebagai pencuri, hal ini pasti tidak akan terjadi. Dan Jong In masih mempunyai kesempatan untuk membiayai hidup Ibu dan ketiga adiknya. Lalu, apa yang harus ia lakukan sekarang jika hanya penyesalan yang tertinggal.

“Jong In-ah, mianhaeyo…cheongmal minahaeyo. Seandainya aku bisa memutar waktu, aku ingin memutar waktu kembali pada saat aku membuatmu pergi saat itu. Aku tidak akan melakukan hal bodoh itu dan sekarang aku pasti tidak akan merasa menyesal karena sudah membuatmu pergi” sesal Rae In dalam hatinya.

Di sampingnya Hyo Jin pun tertunduk dalam, jika ia tahu sejak awal bagaimana kehidupan Jong In sebenarnya, mungkin selama ini dia tidak akan membenci Jong In dan bersikap acuh padanya. Hyo Jin juga menyesal, mengenang saat ia pernah memaki-maki Jong In yang tidak mau menyumbang uang untuk memberi kado untuk Pak Ji Hoo saat Ulang Tahunnya. Saat itu Hyo Jin mengatai Jong In pelit dan aneh, tapi Jong In hanya terdiam dan menunduk.

Senja telah hadir, menggantikan terik yang selesai melaksanakan tugasnya seharian. Rae In dan Hyo Jin meninggalkan sebuah rumah kontrakan sederhana itu dengan langkah penuh sesal. Biarlah rahasia penyebab kematian Jong In hanya dia dan Tuhan yang tahu dan dia tidak akan pernah mengatakannya pada siapapun. Satu hal yang akan ia lakukan untuk menebus penyesalannya itu, ia siap menjadi pengganti Jong In untuk menjadi tulang punggung bagi keluarga Jong In yang telah di tinggalkannya.

~ End ~

Author’s Note : Waktu author baca ini cerpen, langsung ngena banget. Karena ini satu dari contoh beberapa kejadian yang emang ada di kehidupan nyata. Sering banget kejadian, pencopet atau pencuri yang cuma nyuri ayahm, nyuri cokelat atau apalah yang sepele, tapi bisa di bakar, di hajar abis” an,atau di penjara bertahun-tahun, padahal sebagian dari mereka punya alasan mulia di balik itu. Tapi para koruptor yang udah makan uang rakyat ampe triliunan rupiah, masih bisa berkeliaran bebas, bahkan di penjara juga kadang di kasih fasilitas mewah,,,bener” miris hukum yang ada di negara tercinta kita ini…Maaf author bukan mau menyinggung pihak” tertentu atau menghakimi kesalahan orang, tapi ada baiknya kita sebagai generasi muda bisa lebih peduli lagi terhadap apa yg terjadi di sekeliling kita, jangan punya sikap terlalu acuh, pdhal tanpa kita sadari msh bnyak org” yg lebih susah n lbh butuh bntuan kita…Ini ckup jd pelajaran az dlm menilai seseorang bwt kita, bwt author sndiri jg, biar gx memandang seseorang cm dr covernya az, krn cover buruk blm tntu isinya buruk jg, dan sebaliknya...

About these ads

4 thoughts on “[FICLET] Regret

Your coMmenT is so pReciOus...^0^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s