Belum Genap 17 Tahun

Hari ini hari pertama Vanya masuk sekolah di kelas XII. Vanya berdandan cantik, ia mengenakan bondu motif polos berwarna pink, dan polesan tipis bedak di wajah cantiknya. Vanya terlihat ceria, ia sangat bersemangat untuk memulai harinya di kelas baru. Vanya anak yang ceria, baik hati, penyayang dan pintar. Banyak teman yang ingin berteman dengannya dan banyak para siswa yang menyukainya, tapi Vanya dilarang pacaran oleh orang tuanya sebelum ia menginjak usia tujuh belas tahun. Tapi saat Vanya kelas VIII, ia pernah menyukai teman satu kelasnya, tapi laki-laki itu pindah sekolah dan Vanya sempat sedih dan kecewa. Tapi ia juga tidak mau terlalu larut terus dalam kesedihannya.

“Hai Vanya….” Sapa teman-teman Vanya di sekolah ketika Vanya mulai memasuki gerbang sekolah sampai masuk ruangan kelas.
“Hai…” jawab Vanya dengan menebar senyum manisnya dan terlihat jelas lesung pipinya.

Vanya mulai duduk dikursinya dan dia duduk dengan sahabat yang masih satu kelas dengannya di kelas XI, bernama Alin.

“Wow…Van, kamu cantik banget hari ini”
“Makasih, Lin…Tapi bukannya aku cantik yah tiap hari?” canda Vanya dengan menampakkan muka narsisnya.
“Haha…ia deh..ia…Oya kamu udah tahu kalo hari ini kelas kita ada murid baru?”
“Oh..ya? belum tuh,emangnya cewe atau cowo?
“Hmm…denger-denger sih….”

Pembicaraan mereka terpotong oleh suara bel yang menandakan kegiatan belajar mengajar akan segera dimulai. Tidak lama kemudian guru mata pelajaran pertama dikelas Vanya memasuki kelas datang dengan dua orang murid baru, perempuan dan laki-laki.

“Pagi….anak-anak”
“Pagi…bu…”
“Hari ini kita kedatangan murid baru, mereka pindahan dari sekolah di Jogja dan Jakarta, Maya dan Rival silahkan perkenalkan diri kalian masing-masing”.

Siswa siswi satu kelas Vanya mendadak hening sejenak, menatap serius 2 murid baru itu yang akan memperkenalkan diri mereka.

“Pagi…teman-teman”
“Pagi….”
“Perkenalkan nama saya Muhammad Rival Anandita, saya pindahan sekolah dari Jakarta, kalian bisa panggil saya Rival atau Anan, terima kasih”
“Boleh ga saya panggil kamu Anan kalo siang, dan Dita kalo malem?” cetus serang siswa yang mencairkan keheningan itu menjadi gelak tawa murid-murid seisi kelas.
“Emang dia bencong,hahaha..” balas siswa yang lainnya.
“Aldi..Rian..sini kalian, biar ibu hukum kalian push up 20 kali, seenaknya ejek orang”
“Wah..jangan dong Bu, ampuuun…”
“Huuuu..”

Aldi dan Rian akhirnya tetap di hukum push up 20 kali.

“Maya…sekarang giliran kamu”
“Baik…terima kasih Bu”
“Pagi..teman-teman”
“Pagi….”
“Perkenalkan nama saya Maya Nabila Putri, saya pindahan dari sekolah di Jogja, kalian bisa panggil nama saya Maya atau Putri, terima kasih”
“Ok…cukup anak-anak, untuk perkenalan selebihnya kalian bisa menanyakan pada mereka nanti di luar jam belajar, sekarang kita akan memulai pelajaran kita hari ini”.

Beberapa minggu kemudian….

“Hai….Van, sendirian aja?” sapa Maya pada Vanya yang sedang duduk di kursi taman sambil membaca buku saat jam istirahat.
“Eh..hai, May. Ia neh sendirian, kenapa?”
“Oh..ga apa-apa. Oh..ya malem ini kamu ada acara?”
“Ehmm..ga ada tuh, kenapa May?
“Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat neh, pokonya seru deh”
“Kemana?”
“Aku ga bisa cerita sekarang, kamu tenang aja pasti aku anterin ko pulangnya, ok?”
“Tapi aku takut ga boleh keluar sama orang tuaku kalau malem”
“Kamu bilang aja mau belajar bareng?”
“Aku harus bohong dong?”
“Cuma kali ini aja kok, gimana?”
“Ehmm..liat nanti aja yah”
“Aduh..ayo dong, ga akan pulang malem, kok?”
“Hmm..ya udah deh”
“Nah gitu dong, ok nanti aku jemput kamu ke rumah yah?”
“Ah..jangan, May. Ehmm…kita janjian di luar aja yah, nanti aku hubungi kamu lagi, ok?”
“Emang kenapa, Van?”
“Ah..Ehmm…ga apa-apa kok, pokonya nanti aku kabarin kamu lagi, ok?”
“Oh..ya udah deh, tapi beneran jadi yah?”
“Iya..iya..”
“Ok…”

Maya pergi meninggalkan Vanya di taman dan tidak lama kemudian Alin datang menghampiri Vanya.

“Maya ngajak kamu kemana, Van?”
“Ga tau tuh, katanya sih ke suatu tempat yang seru”
“Tempat yang seru?”
“Iya…”

Bel masuk berbunyi….

Jam 19:00 Vanya mengajak Maya bertemu di depan jalan dekat rumahnya. Maya menyetir mobilnya, mereka menuju ke sebuah Pub.

“May…ko ke tempat kaya gini sih?”
“Udah..Van tenang aja tempat ini seru, kok”

Vanya tidak menyangka ternyata dia akan dibawa ke tempat seperti itu. Tapi Vanya juga tidak mungkin langsung menolak ajakan Maya. Di dalam Pub, sudah berkumpul teman-teman Maya.

“Hallo…May”
“Hallo..”
“Wah..bawa siapa tuh, May cantik juga?”
“Oh..ia kenalin ini Vanya temen gue satu kelas, Vanya ini temen-temen aku”
“Hai..Vanya” ucap Vanya sambil menyalami satu-satu dari teman Maya.

Dalam hati Vanya heran, ko bisa Maya secepat itu mendapatkan teman di tempat seperti ini, padahal dia kan baru pindah ke Bandung beberapa minggu yang lalu? Vanya ditwarakan minum oleh Maya tapi dia menolak, ia mencium bau alkohol dalam minuman itu, akhirnya Vanya meminta minuman lain yang tidak mengandung alkohol.

Pukul 21:00, handphone Vanya berbunyi. Mamah Vanya menelfonnya tapi Vanya tidak menjawabnya karena suara Music di Pub itu terlalu berisik dan Vanya tidak mengaktifkan nada getar di handphonenya. Pukul 22:00 Vanya mengecek handphonenya, ada 20 panggilan tidak terjawab dari Mamahnya.

“May…pulang yuk? Udah jam 10 neh, Mamahku udah nelfonin terus dari tadi tapi ga ke angkat sama aku”
“Yah…Van masih pagi neh”
“Duh…May ayo dong aku bisa di marahin neh”
“Hmm..ok deh”
“Hey…temen-temen gue balik yah, ga enak neh bawa anak orang”
“Wah…ko balik May, masih seru lho”
“Next time deh kita lanjut, ok?”
“Bye..”

Pukul 23:00 Vanya tiba dirumahnya, Mamahnya sudah menunggu dia di deapn rumah.

“Vanya, kenapa jam segini baru pulang?”
“Tadi tugasnya banyak, Mah jadi agak lama”
“Aduh..anak perempuan ko pulang malem, untung Papah kamu belum pulang, kalau dia udah pulang, bisa abis kamu”.
“Hmm…” ucap Vanya sambil berlalu dan menuju kamarnya.

Keesokan harinya di kelas…

“Van..tadi malem kamu kemana?” Tanya Alin agak marah.
“Ehmm…ke..Cuma ke Café aja, kok emang kenapa?”
“Kamu bohong yah sama Mamah kamu?”
“Kamu bilang kamu mau belajar bareng, tapi?”
“Ko kamu tau, Lin?”
“Tadi malem Mamah kamu ke rumah aku, dia nanya apa bener kamu belajar bareng. Aku kaget karena setauku kita lagi ga ada tugas”
“Terus kamu bilang apa, Lin?”
“Aku masih baik untuk melindungi kamu, aku bilang kalo kita beda kelompok tugas dan emang bener kamu lagi ngerjain tugas bareng”
“Wah..makasih yah, Lin kamu emang bener-bener temen terbaik aku” ucap Vanya manja sambil memeluk Alin.
“Tapi kamu jujur sama aku, sebenernya tadi malem kamu di ajak kemana sama Maya?”
“Ehmmm….”
“Hai..Van..Hai..Lin..” sapa Maya yang memotong pembicaraan Vanya dan Alin.

Sepulang sekolah di rumah Vanya…Vanya melihat orang tuanya sedang bertengkar hebat, entah apa yang sedang mereka ributkan. Tapi Vanya lelah mendengarnya, ia sudah terlalu sering melihat mereka bertengkar. Mamah dan Papah Vanya orang tua yang sangat keras, kadang mereka sering memarahi Vanya dengan kata-kata kasar dan nada tinggi ketika Vanya melakukan kesalahan. Dan terkadang Vanya ada fikiran untuk pergi dari rumah, tapi dia coba untuk tetap sabar.

Beberapa hari berlalu, Vanya semakin dekat dengan Maya, mereka selalu istirahat bareng, pulang bareng bahkan Maya sering mengajak Vanya berbelanja ke Mall. Vanya mulai merasakan sedikit kemewahan dan kesenangan karena selama ini dia tidak pernah merasakan hal itu. Papah Vanya hanya seorang supir angkot dan Mamahnya hanya seorang ibu rumah tangga, terkadang masalah ekonomi yang membuat orang tuanya selalu bertengkar. Tapi Vanya tidak pernah menceritakan tentang keluarganya pada teman-temannya di sekolah hanya Alin yang tahu, karena memang rumah mereka saling bersebelahan. Dulu Vanya selalu diam di rumah Alin seharian jika di rumahnya tidak ada orang, bahkan Vanya juga sering menginap di rumah Alin walaupun orang tuanya ada di rumah.

Konflik dimulai…Vanya mulai sering pulang malam, Papahnya sering mendengar dari para tetangga bahwa Vanya kerap kali dijemput oleh seorang pria dengan mobil mewah di depan jalan rumah mereka. Itu membuat Papahnya marah besar, terkadang Vanya hampir dipukul tapi Mamahnya selalu menghalanginya. Terkadang Mamah Vanya ikut memarahinya, tapi ia juga sering menyembunyikan kenakalan Vanya belakangan ini dari suaminya.

“Kamu mau jadi cewe apaan, pulang malem terus diantar jemput laki-laki pake mobil mewah di tengah jalan, piker sama kamu apa kata tetangga, jangan bikin malu orang tua” ucap Papah Vanya dengan nada tinggi

Vanya hanya diam, semenjak Vanya dekat dengan Maya, banyak perubahan yang terjadi pada dirinya. Nilai-nilainya menurun drastis, gurunya sudah sering menegurnya bahkan memanggil orang tuanya ke sekolah, Vanya sempat di hukum tidak boleh keluar sesudah pulang sekolah. Tapi ia tetap nekat keluar rumah dan pulang malam. Vanya juga semakin jauh dengan Alin, Alin sering menasehatinya agar tidak terlalu dekat dengan Maya, tapi Vanya tidak pernah mendengarnya. Akhirnya Alin pun lelah dan pasrah, terserah apa yang mau dilakukan oleh Vanya.

“Wow…motor siapa tuh de?” Tanya Vanya pada adiknya yang sedang mengelap motor.

Papah Vanya membelikan motor untuk anaknya. Motor itu bisa dipakai Vanya atau adiknya, Adit untuk pergi ke sekolah atau kemana pun mereka perlu. Walau Papahnya keras tapi ia sangat peduli dan sayang terhadap anaknya.

“Motor siapa coba, kak?”
“Motor kita yah?”
‘Wah betuuuul..kakakku pinter juga,haha…”
“Wah..yang bener de? Ayik dong?”
“Eits…tapi inget yah, kak..Kakak harus adil, kita gantian pakenya, kalau aku mau pake harus kakak kasih, deal?”
“Huuu…ia bawel”

Vanya pergi ke sekolah dengan motor barunya, ia memarkirkan motornya dan berjalan menuju lorong kelas. Di gerbang sekolah…

“Hai..Val, lagi liatin siapa sih sampe bengong gitu?” sapa Alin sambil menepuk punggung Rival.
“Ah…Alin, kamu ngagetin aja. Ga kok, aku ga liatin siapa-siapa” jawab Rival sambil berlalu.

Ternyata Rival sedang memperhatikan Vanya, sebenarnya Rival menyukai Vanya semenjak 3 minggu setelah ia masuk sekolah. Saat itu di Lab. Kimia sedang praktikum, Vanya menolong Rival yang hampir terkena cairan kimia. Saat itu Rival melihat ketulusan dan kelembutan hati Vanya dan ia juga seperti melihat ada sesuatu yang beda dari Vanya karena hanya Vanya yang memanggil dia dengan nama Anan, sedangkan semua teman-teman dan keluarganya memanggil ia dengan nama Rival.

Di taman sekolah, Alin sedang duduk sendiri pada jam istirahat dan Rival menghampirinya. Rival menyapa Alin dan ia sangat ingin menceritakan tentang isi hatinya pada Alin bahwa ia menyukai Vanya, Rival tahu bahwa Alin teman dekat Vanya, walaupun belakangan ini mereka sudah agak menjauh. Tapi Rival tahu Alin pasti bisa membantunya menceritakan sedikit tentang Vanya. Alin menceritakan semua tentang apa-apa yang tidak disukai dan disukai oleh Vanya, Alin juga menceritakan keseharian Vanya dirumahnya, dia menceritakan yang sebenarnya tentang siapa Vanya, dan orang tuanya. Alin tidak bermaksud menjelek-jelekkan keluarga Vanya pada Rival, tapi ia hanya berusaha mengatakan yang sebenarnya, karena justru selama ini Vanya seperti sudah dibutakan dengan harta dengan menyembunyikan identitas dirinya yang sebenarnya. Rival sempat kecewa kenapa Vanya bisa seperti itu, tapi ia juga sadar pasti Vanya memiliki alasannya sendiri kenapa ia melakukan itu.

Malam hari Rival mencari makan keluar, sambil berjalan ia ingat kata-kata Alin tentang Vanya. Ia juga masih terpikirkan satu hal bahwa Vanya baru boleh pacaran saat ia sudah 17 tahun nanti, dan itu hanya tinggal beberapa bulan lagi. Rival dalam hati berniat, saat Ulang Tahun Vanya ke-17 tahun nanti,ia akan memberanikan dirinya untuk mengungkapkan isi hatinya pada Vanya. Ia tidak peduli jawaban apa yang akan diberikan oleh Vanya nantinya, yang penting ia sudah mengungkapkannya. Tapi Rival tiba-tiba dikejutkan oleh suara deguman keras, ia melihat orang-orang mulai berlarian mengerumuni suara itu berasal. Ia pun ikut penasaran, akhirnya ia menghampiri tempat yang sudah di kerumuni oleh banyak orang itu. Spontan Rival shock, yang ia lihat saat itu tubuh Vanya yang putih dan mulus sudah terbaring mengenaskan berlumuran darah. Orang-orang panik, tapi mereka malah diam menyaksikan tidak segera membawa Vanya ke Rumah sakit. Kebetulan ada polisi yang sedang patroli, saat polisi tahu bahwa Vanya tidak sendiri saat kecelakaan, karena ia bersama 2 orang temannya laki-laki. Satu teman Vanya bernama Rama di bawa oleh polisi ke kantor polisi untuk dijadikan saksi dan dimintai keterangan, dan teman yang satu lagi bernama Ricky menghubungi Alin dan mencari rumah Vanya, karena kebetulan dia masih satu kelas dengan Vanya, Alin dan Rival. Dan akhirnya Rival yang membawa Vanya ke Rumah Sakit, ia masih benar-benar tidak menyangka wanita yang baru saja beberapa menit yang lalu ia pikirkan, sekarang ada dihadapannya tak berdaya dan bahkan sedang berjuang menghadapi maut. Saat dilarikan ke Rumah Sakit, Vanya sempat mengeluh kesakitan, namun beberapa detik kemudian suaranya sudah tidak terdengar lagi, Rival menunduk dan dengan berat ia menahan air matanya, Vanya telah pergi.

Setiba di Rumah sakit, Vanya dibwa ke ruang UGD, tapi dokter dan suster tidak ada yang menanganinya. Memang banyak orang yang megeluhkan pada Rumah Sakit itu yang tidak pernah cepat tanggap ketika ada pasien atau jenazah yang tiba disana. Vanya akhirnya hanya di gips di bagian lehernya, karena kepalanya retak. Kaki dan tangannya patah, banyak luka memar dan lecet di seluruh tubuhnya, tapi suster hanya memasangkan perban di kaki dan tangannya.

Ricky terus menghubungi Alin, dan akhirnya ia bisa menemukan rumah Alin. Ia memberitahukan pada Alin bahwa Vanya mengalami kecelakaan dan mungkin hanya luka lecet-lecet walaupun sebenarnya ia juga belum tahu pasti bagaimana keadaan Vanya karena beberapa menit setelah Vanya kecelakaan ia langsung membawa motornya dan mencari rumah Alin. Ricky menyuruh Alin untuk segera memberi kabar pada orang tua Vanya dan setelah itu ia langsung menuju kantor polisi karena Rama temannya masih ada di sana.

Alin menyuruh ibunya untuk memberi kabar pada Mamah Vanya, saat itu pukul 23:00. Mamah Vanya sudah tidur dan Ibu Alin terus mengetuk pintu rumah Vanya, sampai akhirnya Mamah Vanya keluar.

“Bu…Vanya ada dirumah?”
“Ga ada, Bu…Tadi dia bilang mau beli makan ke depan ,memang ada apa, Bu?” jawab Mamah Vanya setengah sadar karena ia baru bangun tidur.
“Vanya kecelakaan, Bu. Tadi temannya ke sini, memberitahu pada Alin, katanya sih cuma lecet-lecet aja. Sekarang udah di bawa ke Rumah sakit, coba ibu liat dulu”
“Astagfirullahal adzim…ia bu, saya ke sana sekarang”
“Biar ibu di antar sama anak saya, Bima” Ibu Alin menwarkan bantuan
“Ah..ga usah bu, biar saya jemput Adit di warnet, tadi motor di pakai Adit. Biar saya ke rumah sakit sama Adit.
“Oh…ya udah bu, hati-hati”
“Ia makasih, Bu”

Mamah Vanya menjemput Adit di warnet, tapi ia kaget karena ternyata motor tidak sedang di pakai olehnya. Vanya bilang pada Mamahnya bahwa ia akan membeli makanan, tapi ternyata dia mengambil motor dari adiknya dan bilang akan ke rumah temannya. Mamah Vanya sudah mulai cemas, akhirnya dia ke Rumah Sakit bersama Adit naik ojeg. Setiba di Rumah Sakit, ia melihat anaknya yang sudah terbujur kaku tak bernyawa. Tapi ia masih bisa kuat sampai akhirnya jenazah Vanya di bawa ke rumah ibunya yang juga tidak jauh dari rumahnya. Di sana Mamah vanya mulai menjerit histeris dan bahkan pingsan sampai 4 kali.

Di rumah Vanya…

“Pak, bapak nyari ibunya yah?” Tanya ibu Alin pada Papah Vanya yang baru saja pulang narik angkot.
“Oh..ia Bu, kira-kira istri saya kemana yah?”
“Oh..ia Pak, Vanya kecelakaan. Istri bapak sudah pergi ke Rumah Sakit, coba Pak tolong liat Vanya ke sana”
“Ah..buat apa, Bu? Biar lah, biar mampus tuh anak, saya sudah capek, Bu..Tadi siang saya bertengkar dengan dia, dia selalu minta uang untuk beli ini itu, dia piker kita orang kaya? Mana belakangan ini dia sering pulang malam, saya suda sering menasehati dia, Bu tapi dia tidak pernah mau dengar. Biar sekarang dia rasakan akibatnya”
“Aduh..Pak, ko bapak ngomongnya begitu sama anak sendiri? Tolonglah, Pak lait Vanya sebentar, kasian istri Bapak di sana mungkin sendirian”
“Ah..tidak, saya tidak akan ke sana. Saya capek”

Tidak lama kemudian datang keluarga Vanya ke rumahnya, ia memberikan kabar pada Papah Vanya bahwa Vanya telah tiada. Papah Vanya bisu ia terdiam, baru saja ia memaki Vanya dengan kata-kata yang tidak pantas bahkan menyumpahi Vanya untuk mati. Tapi dalam hati ia teringat, sebelum ia pulang, di jalan ia melihat ada kecelakaan bahkan ia sempat melihat keadaan dari motor itu yang sudah hancur. Saat itu ia ingin turun untuk ikut melihat, tapi karena penumpang malam itu sedang penuh dan ia tidak mungkin meninggalkan para penumpangnya. Ia juga ingat, dalam hati ia berkata “Itu motor bisa hancur seperti itu, apalagi orangnya?” Yah…ia tidak tahu bahwa sebenarnya yang mengalami kecelakaan itu adalah anaknya sendiri.

Ia tidak mengira itu Vanya karena ternyata malam itu saat kecelakaan, Vanya memakai motor temannya Ricky. Akhirnya Papah Vanya pergi ke rumah mertuanya, ia melihat Vanya yang masih berlumuran darah, ia tidak berkata. Ia hanya menatap Vanya putri satu-satunya sudah tidak bernyawa. Keesokan harinya di pemakaman Vanya, saat jenazah Vanya akan dimasukkan ke dalam liang lahat, Papah Vanya menjerit histeris.

“Vanya..jangan pergi sayang… Papah mau ikut kamu, Vanyaaaaaa….”

Setelah pemakaman selesai, Papah Vanya tidak mau meninggalkan makam Vanya, ia masih ingin berada di sana, tapi semua orang membujuknya dan akhirnya ia mau pulang ke rumah. Setiba di rumah, Papah Vanya diam merenung ia teringat siang hari sebelum Vanya pergi, ia bertengkar hebat dengan Vanya karena Vanya belakangan ini sering pulang malam dan meminta uang, siang itu Vanya hanya minta uang untuk potong rambut, Papah Vanya memarahinya tapi akhirnya Vanya di beri uang oleh Mamahnya.

Sebelum Vanya keluar rumah, Vanya sempat shalat maghrib dan pamit pada ibunya untuk membeli makan. Tapi ternyata dia pergi ke rumah Ricky dan berkumpul dengan teman-temannya di sebuah Café. Saat pulang, ia ingin mencoba motor Ricky, karena motor Ricky baru di modifikasi. Ricky sempat mengingatkan Vanya agar membawa motornya pelan-pelan dan tidak ngebut, tapi di tengah jalan Ricky justru kehilangan jejak Vanya, sebelum Vanya kecelakaan ada motor yang menyalip motor Ricky dengan kecepatan tinggi. Sampai akhirnya beberapa menit kemudian ia sudah melihat tubuh Vanya yang terbaring berlumuran darah. Diduga, motor yang sempat menyalip Ricky adalah pelaku tabrak lari. Kemungkinan saat itu Vanya terpancing emosinya karena teman-temannya tahu bahwa Vanya selalu terpancing emosi jika ada orang yang mengebut menyalipnya. Dan motor Vanya tersenggol oleh motor itu, dan terpental.

Di sekolah, semua orang berduka atas kepergian Vanya. Mereka mengenang sosok Vanya yang ceria. Guru Vanya sempat bercerita, 2 hari sebelum Vanya pergi, ia meminta sedikit dari uang tabungannya untuk potong rambut tapi gurunya tidak memberinya dan Vanya sempat berkata pada gurung bahwa ia takut dia tidak bisa mengambil uang itu lagi. Teman-teman Vanya yang lain menceritakan, siang hari sebelum kecelakaan Vanya sempat shalat dzuhur dan teman-temannya heran karena selama ini ia sudah jarang shalat di sekolah. Dan Ricky mengenang, malam sebelum kecelakaan, Vanya berpesan padanya untuk mengajak teman satu kelas hari jumat nanti datang ke rumahnya untuk makan-makan, Ricky sempat heran ada acara apa, karena Ricky juga tahu Ulang Tahun Vanya masih beberapa bulan lagi. Ternyata kenyataannya, mereka memang datang ke rumah Vanya tapi bukan untuk makan-makan melainkan menghantarkan Vanya ke peristirahatannya yang terakhir. Untuk Alin, ia mengenang malam sebelum kecelakaan, Vanya tiba-tiba ingin menginap di rumahnya. Di situ Vanya banyak bercerita bahwa sebenarnya ia menyukai seseorang di sekolah, dan itu adalah Anan atau Rival. Alin sempat kaget, siang hari sebelumnya Rival pun mencurahkan isi hatinya bahwa ia menyukai Vanya, dan di situ Vanya berharap di Ultah Sweet Seventeennya nanti, ia ingin Rival bisa menjadi pacarnya. Tapi sekarang semua itu hanya kenangan, Sweet Seventeen Vanya yang tidak akan pernah terwujud. Ia pergi di usianya yang masih sangat muda dan Belum Genap 17 Tahun…Harapan Rival untuk mengungkapkan isi hatinya,kini tak bisa ia lakukan, karena Vanya sudah hidup di alam yang lain dengannya….Terlebih Maya yang sangat bersedih dan menyesal atas kepergian Vanya yang tanpa ia duga, Maya menyesal karena selama ini ia sudah membawa Vanya pada pergaulan yang tidak benar. Maya lebih menyesal karena ia belum sempat hanya untuk meminta maaf pada Vanya, dan ia sangat malu pada orang tuanya. Yah..tapi penyesalan selalu datang terlambat, Maya akhirnya bertaubat, ia menjauhi pergaulan nakal yang selama ini ia jalani. Vanya memberikan pelajaran berharga padanya. Selamat Jalan Vanya…..

The End….

Kisah ini hampir kisah nyata, di alami oleh seseorang, saya terinspirasi untuk menjadikan pengalaman hidup almh. menjadi sebuah cerita. Semoga bisa menjadi pelajaran untuk kita, harta bukan segalanya, terima keadaan dengan ikhlas, apa yang Allah berikan patut kita syukuri. dan jika kita sebagai orang tua hendaknya jangan berbicara kasar pada anak karena ucapan orang tua sebenarnya adalah sebuah do’a. Dan jangan pernah mengucap “Mati Kau” pada seorang anak, senakal apapun seorang anak, orang tua hendak menasehati dengan kat-kata yang baik.Moga cerita ini bermanfaat dan bisa di ambil hal-hal yang positifnya…

Selamat membaca…^^

Your coMmenT is so pReciOus...^0^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s