[CHAPTERED] My Beloved Girl – Part 3

Author : r13eonnie 강 하이에나 a.k.a Pinky Girl
Rating : R / PG-15
Genre : Romance, Life, Angst, Friendship, Family
Lenght : Chaptered
Main Cast :
↔ Vania Alexandria Sentani / Lee RaeHee / Vania Lee ( OC )
↔ Lee Jeong Hoon ( HITZ )
↔ Hangeng
Support Cast :
↔ Lee Hong Ki
↔ Ghun ( X-5 )
↔ Jo Twins ( Jo Kwangmin n Jo Youngmin )
↔ Stevanny Jessica Manoach / Song Hyun Won ( OC )
↔ Anastasia Hannas / Lee ChaeRi ( OC )
↔ Jung Ilyeon ( OC )
↔ Jung Yeon Hee ( OC )
↔ Bae Eunsun ( OC )
↔ Kim Eun Ki ( OC )

and Other…

Backsound :
– Kim Taeyeon – Can You Hear Me
Poster by Vhii Kikey Shawol

Happy Reading

Vania masuk ke kamarnya langsung mandi dan mengganti pakaiannya yang juga basah kuyup. Selesai mandi, dia mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Namun tiba-tiba bayangan Jeong Hoon muncul di benaknya. Dadanya terasa sesak lagi mengingat sikap Jeong Hoon yang tiba-tiba berubah padanya.

Drrtt..ddrrtt….

Vania melihat layar Handphone nya dan ternyata Bundanya yang menelfon.

“Hallo,,Bunda” sapa Vania dengan lembut.

“Sayang, kamu sedang apa?”

“Rae Hee sedang mengeringkan rambut, Bunda. Bunda kenapa malam-malam begini telfon?”

“Kau malam2 begini mandi?? Rae Hee nanti kau sakit sayang” terdengar suara Bunda Vania cemas.

“Aku baru pulang kerja Bun, kehujanan jadi aku langsung mandi dan keramas”

“Kau kehujanan?? Memang sekarang di sana sedang hujan lebat?”

“Ia,,,Bunda”

“Lalu tadi kau di jemput siapa??”

“Tadi Gege yang menjemputku”

“Oh..syukurlah, Bunda benar-benar tenang, nak jika dia selalu ada di dekatmu”

“Ya..Bunda. Oya, Bunda belum jawab, kenapa malam-malam begini Bunda tiba-tiba telfon?? Bunda kangen aku yah, hehe…”

“Ya,,Bunda kangen padamu, dan entah kenapa sepertinya Bunda merasa kau sedang membutuhkan Bunda. Apa kau sedang ada masalah?”

“…..” Rae Hee terdiam, berpikir apakah Bunda benar-benar bisa merasakan bahwa sekarang hatinya sedang bingung??

“Rae Hee-ah, kau masih di sana??”

“Ye..?? Ah,,,ne Bunda aku masih di sini”

“Lalu, kenapa kau tidak menjawab pertanyaan Bunda, apa kau sedang ada masalah?? Ayo sayang, kau tidak akan pernah bisa menyembunyikan apapun dari Bundamu ini”

“Ehm…baiklah Bunda, aku mengaku kalah. Bunda benar, memang ada sesuatu yang sekarang ini mengganggu pikiranku”

“1 minggu yang lalu, aku pergi bersama seseorang, dia sahabat Gege yang baru tiba dari Jepang, dia menetap di Korea sekarang, bahkan kamarnya tepat ada di sebelah kamarku. Setelah pergi bersamanya, aku ke sebuah Restaurant, dan ternyata aku bertemu Gege dengan seorang wanita, dia sahabat Gege sejak SMA. Akuu..saat itu aku cemburu pada Gege dan karna tidak kuat melihat Gege yang sangat dekat dengan wanita itu, aku pergi ke toilet. Saat aku keluar dari toilet, ternyata Gege ada di sana. Aku dan Gege kembali ke meja kami, dan dari situ aku melihat sahabat Gege yang aku bilang tadi, tiba-tiba terdiam dan selama seminggu ini pun dia mendiamkan aku. Dan tadi saat aku pulang, aku melihat dia juga baru pulang, dalam keadaan basah kuyup dan sepertinya dia habis minum. Aku menghampiri dia, tapi dia menghempaskan tanganku yang menyentuh tangannya, dia juga tidak menjawab ucapanku dan langsung masuk ke kamarnya. Entah kenapa perasaanku sepetinya sesak dan sakit melihat sikapnya seperti itu. Bunda apa kau tau sebenarnya apa yang sedang aku rasakan sekarang ini??”

“Baiklah, Bunda akan jawab tapi sebelumnya Bunda ingin bertanya padamu, saat kau dan Gege bertemu di toilet, apa yang kalian bicarakan??”

“Akuu…aku memakinya, dan aku juga mengungkapkan lagi isi hatiku kalau aku mencintainya dan tidak pernah menganggapnya seperti kakakku. Lalu Gege memelukku dengan erat dan aku juga membalas pelukan Gege, aku menangis di pelukannya”

“Putrikuu…mungkin saat itulah sahabat Gege itu mendengar pembicaraan kalian dan melihat kalian berpelukan, tapi kalian tidak menyadarinya. Dia menyukaimu sayang”

“Apa?? Dia menyukaiku?? Hahaha..Bunda itu tidak mungkin, kita itu baru kenal jadi bagaimana mungkin dia menyukaiku? Haha..Bunda ada-ada saja”

“Sayang, cinta itu kita tidak akan pernah tau kapan datangnya dan pada siapa. Siapa tau ada sesuatu hal yang benar-benar menarik darimu baginya sampai dia bisa langsung jatuh cinta padamu. Dan seperti yang terjadi padamu sekarang”

“Maksud Bunda??”

“Kau juga menyukainya sayang”

“Apa?? Hahaha..Bunda, Bunda kau membuat aku tertawa lagi. Bunda itu TIDAK MUNGKIN, aku juga baru mengenalnya, bagaimana mungkin aku sudah menyukainya lagi?? Lagipula aku mencintai Gege, Bunda juga tau kan belasan tahun ini aku mencintai Gege jadi bagaimana mungkin aku bisa secepat ini melupakan Gege dan langsung menyukai namja itu yang baru aku kenal”

“Rae Hee,,cinta dan ego itu beda tipis, lho. Menurut Bunda cinta yang kau rasakan pada Gege itu adalah sebuah ego bukan cinta”

“Bundaaaa…”

“Dengar sayang, apa kau tidak sadar, kau selalu cemburu setiap kali melihat Gege dekat dengan wanita lain, padahal kau bukan siapa-siapanya, iya kan?? Kau juga tidak mengijinkan Gege mencintai atau memiliki seorang pacar karna kau hanya ingin kaulah yang menjadi miliknya. Sayang, itu bukan cinta, tapi itu adalah ego, ego yang membuatmu selalu cemburu padanya dan ingin memilikinya. Yang namanya cinta itu, kau cukup mencintai seseorang, bagaimana perasaan orang itu kau tidak akan pernah memperdulikannya. Dan kau juga tidak akan marah melihat orang itu dekat-dekat dengan wanita lain, kau cukup yakin jika dia juga mencintaimu, maka dia hanya akan memandangmu walaupun ada wanita lain sedang ada di sisinya. Dan kau juga tidak akan mempunyai hasrat untuk memiliki orang itu seutuhnya, tapi justru kau akan membiarkan dia memilih seseorang yang dia cintai, membiarkan dia bahagia dengan orang yang dia cintai jika orang yang dia cintai itu bukan kau”

“Coba kau ingat lagi, saat apa yang kau rasakan pada sahabat Gege itu, kau malah bingung sendiri kan dengan perasaanmu?? Kau merasakan dadamu sesak menerima perlakuannya yang tiba-tiba acuh padamu? Tapi kau bahkan tidak berani bertanya padanya kan kenapa dia seperti itu?? Tanpa kau sadari sekarang ini perasaanmu sedang ingin di perhatikan olehnya, kau tidak suka dia mengacuhkanmu. Karna kau sekarang sudah menyukainya Rae Hee-ah, dan menyukai atau mencintai seseorang itu sebenarnya tidak butuh waktu yang lama atau butuh sebuah alasan. Tapi saat dia mengacuhkanmu, kau baru akan menyadarinya bahwa kau seperti kehilangannya. Kau mengerti kan sayang??”

“…..” Vania tidak menjawab pertanyaan Bundanya, sekarang bulir air matanya sedang tertahan di pelupuk matanya dan bersiap untuk jatuh.

“Ra eHee-ah, kau mendengarkan Bunda??”

“Ya..Bunda aku mendengarkan semua ucapan Bunda”

“Jadi, apa kau sudah mengerti maksud dari ucapan Bunda tadi??”

“Entahlah Bunda, aku masih bingung. Tapi akan aku pikirkan baik-baik”

“Ya sudah, sudah malam, sebaiknya kau tidur. Kalau ada apa-apa cepat hubungi Bunda yah, ingat Bunda akan selalu tau jika kau sedang merasa butuh seseorang”

“Ne,,Bunda, gomawoyo”

“Ya sudah, sampaiakn salam Bunda pada Gege dan pada pria itu. malam sayang, Love You”

“Malam Bunda, Love u too”

BIP…

Setelah menutup telfon dari Bundanya, Vania menyaring semua yang di ucapkan Bundanya. Apakah benar yang dia rasakan pada Hangeng hanyalah sebuah ego dan bukan cinta??? Dan apakah mungkin dia sekarang ini sudah mulai menyukai Jeong Hoon??? Vania membantingkan tubuhnya ke si Baddy dan menutup wajahnya dengan bantal. Dan membukanya lagi, lalu melangkah ke arah temboknya. Dia yakin kalau tembok yang sekarang dia dekati adalah, tepat dengan kamarnya Jeong Hoon juga. Vania menempelkan telinganya ke tembok itu, berusaha untuk mendengar sesuatu dari balik tembok itu. Tapi dia tiba-tiba mengerucutkan bibirnya karna dia tidak mendengarkan apapun dari balik tembok itu. Akhirnya dia membaringkan lagi tubuhnya dan sekarang berusaha untuk tidur.

***

Vania bangun agak siang, karna hari ini dia mendapat shift sore. Setelah bangun, dia mencuci mukanya dan membuat segelas teh hangat lalu keluar dari kamarnya. Vania sempat menengok ke arah kamar Jeong Hoon, namun dia tau Jeong Hoon pasti sudah pergi bekerja tadi pagi. Akhirnya Vania turun ke bawah, melihat paman Shuk Hwan yang sedang menyapu halaman seperti biasanya.

“Pagi Vania” sapa paman Hwan menyindir.

“Ahjussi, ini sudah siang, kenapa kau menyapaku pagi???”

“Wah,,benarkah ini sudah siang lagi?? Paman kira masih pagi, hehe…”

“Paman sedang menyindirku yah??” Vania mengerucutkan bibirnya lalu meneguk teh nya sedikit demi sedikit.

“Annyeong eonni..” sapa si kembar yang tiba2 keluar dari kamarnya.

“Annyeong…kalian mau pergi kuliah??”

“Ehm,,,kami ada kuis hari ini, eonni do’akan kami yah semoga bisa mengerjakan kuisnya dengan baik, hehe…”

“Vania eonni mendo’akanmu pun itu tidak akan pernah merubah otakmu yang babo ini” Jung Ilyeon si kembar yang lebih tua, menoyor kepala Jung Yeon Hee pelan.

“Yaak…siapa tau do;a Vania eonni itu mujarab, langsung di kabulkan oleh Tuhan, tidak seperti do’amu, kau tidak pernah tulus mendo’akanku sih, jadi Tuhan juga tidak pernah mendengar do’amu untukku”

“Yaaak…Yeon Hee-ah” Jung Ilyeon mencoba untuk mengejar adiknya itu

“Hahaha..eonni, aku pergi yah, ada beruang tiba-tiba mengamuk, annyeong eonni, annyeong paman Hwan” Jung Yeon Hee berlari dan masih menyempatkan diri untuk pamit pada Vania dan paman Shuk Hwan.

“Hahaha..si kembar yang aneh, kerjaannya bertengkar setiap hari” ucap paman Shuk Hwan menggeleng.

“Ia,,,,,tapi walaupun begitu, aku yakin mereka itu saling menyayangi, hehe…”

“Ya,,kau benar. Akan ada saatnya mereka akan menyadari kalau mereka itu saling menyayangi, meskipun selalu bertengkar tapi dalam hati mereka menyimpan rasa sayang yang begitu dalam. Mungkin jika suatu saat nanti di antara mereka ada yang pergi, mereka baru akan menyadarinya kalau ternyata mereka telah kehilangan orang yang ternyata sangat mereka sayangi”

Mendengar ucapan paman Shuk Hwan, Vania langsung terdiam, dia teringat ucapan Bundanya semalam, hampir persis dengan apa yang di ucapkan paman Shuk Hwan barusan. Tiba2 Vania merasakan ingin sekali melihat keadaan Jeong Hoon, karna dia ingat semalam Jeong Hoon pulang dalam keadaan mabuk dan basah kuyup. Tapi dia juga tidak mungkin menemuinya ke kantor Hangeng, karna yang ada Hangeng akan curiga kenapa dia tiba-tiba datang ke kantor dan menanyakan Jeong Hoon.

“Ah,,,aku ada ide, aku akan mengajak Gege makan siang dan mungkin saja nanti Gege mengajaknya makan siang bersama” tercetus ide seperti itu dalam benak Vania.

“Paman, aku mandi dulu yah, aku mau ke suatu tempat” Vania beranjak dan langsung menaiki anak tangga menuju kamarnya.

Selesai mandi dia langsung memanggil taksi dan menuju kantor Hangeng. Setibanya di sana, Hangeng cukup terkejut melihat kehadiran Vania yang tiba-tiba ada di ruangannya.

“Hei…tumben kau ke sini, ada apa??” tanya Hangeng mencium kedua pipi Vania.

“Memangnya kenapa?? Apa aku tidak boleh menemui orang yang aku cintai di kantornya??”

“Hehe,,,,bukannya begitu, aku hanya kaget saja tidak biasanya kan kau datang ke kantorku??”

“Sudahlah jangan sampai aku sekarang pulang lagi, kalau kau terus bicara seperti itu”

“Haha…baiklah kalau begitu maaf, aku tidak akan bicara seperti itu lagi, aku tidak suka melihatmu marah hari ini, aku senang kau ada di sini” Hangeng memeluk Vania manja, namun Vania hanya tersenyum datar.

“Ehm,,,oya sebenarnya aku ke sini mau mengajakmu makan siang, kau belum makan kan??”

“Ah,,,jadi kau ingin makan siang bersamaku yah?? Baiklah kebetulan aku juga belum makan, hehe..Kajja..” Hangeng menarik tangan Vania dan meninggalkan ruangannya.

Tapi Vania seolah tidak puas keluar begitu saja, dia menunggu Hangeng untuk mengajak Jeong Hoon makan bersama mereka. Tapi Hangeng sepertinya sedang ingin makan berdua dengannya.

“Jamkkaman…” Vania menghentikan langkahnya.

“Wae??”

“Ehm….bagaimana kalau kita ajak juga sahabatmu itu Jeong Hoon, lagipula sudah lama kan kita tidak makan bersamanya??” Vania berusaha untuk mengatur nada bicaranya agar Hangeng tidak menangkap sesuatu yang aneh pada ucapannya.

“Oh..Jeong Hoon, hari ini dia tidak masuk kerja, tadi pagi dia mengirimku pesan, katanya dia sedang tidak enak badan jadi dia ijin satu hari untuk tidak bekerja” Hangeng menggenggam lagi tangan Vania, namun Vania hanya pasrah tangannya di genggam Hangeng.

Tapi entah kenapa, pikirannya saat itu tiba-tiba melayang dan memikirkan Jeong Hoon. “Jadi Jeong Hoon hari ini tidak bekerja karna sakit??? Jadi dia sekarang ada di flatnya dong? Kenapa aku tidak mendengar suara apapun dari kamarnya? Apakah dia baik-baik saja??” Vania bertanya pada hatinya sendiri, tanpa di sadarinya dia sudah mulai mengkhawatirkan Jeong Hoon padahal saat ini Hangeng sedang bersamanya bahkan menggenggam tangannya, seperti apa yang pernah dia harapkan.

***

Hangeng membawa Vania ke Restaurant yang biasa mereka kunjungi. Hangeng mulai memesan makanan saat mereka sudah duduk di salah satu meja Restaurant. Tapi terlihat Vania tidak konsentrasi dengan apa yang Hangeng ucapkan saat dia bertanya padanya ingin memesan makanan apa. Hatinya sekarang ini benar-benar merasakan kecemasan yang begitu mendalam, seolah tubuhnya ingin berlari dari sana dan kembali ke flatnya untuk melihat keadaan Jeong Hoon.

Saat makanan tiba pun, Vania tidak langsung melahapnya. Dia mengeluarkan Handphone nya, seolah ingin menghubungi seseorang tapi dengan cepat dia memasukkan lagi Handphone nya ke dalam tas.

“Rae Hee-ah, gwaenchana?? Kenapa kau terlihat cemas seperti itu? Apa yang sedang kau cemaskan??”

“Ehm,,anhio, aku sedang tidak mencemaskan apa-apa, ehm…ayo kita makan makanannya” dengan senyum terpaksa dia melahap makanannya, tangannya bergetar saat memegang sendok sampai-sampai sendok itu terjatuh.

“Jangan di ambil, pakai punyaku biar aku minta lagi pada pelayannya” Hangeng memberikan sendoknya pada Vania dan memanggil pelayan untuk meminta sendok baru lagi.

“Mian…” Vania hanya tertunduk sambil memasukkan makanannya ke dalam mulutnya dengan malas.

Hangeng sepertinya menangkap sesuatu yang aneh dari Vania, tapi dia tidak cepat mengambil kesimpulan kenapa dia seperti itu.

“Aku antar kau pulang yah” Hangeng menawari diri untuk mengantar Vania saat mereka selesai makan siang dan keluar dari Restaurant.

“Ah..tidak usah, biar aku pulang naik Taksi saja. Aku pulang yah, nanti aku menghubungimu lagi, dah” kebetulan saat itu Taksi melintas di depan Restaurant, Vania dengan cepat memanggilnya dan langsung naik ke Taksi itu sampai-sampai dia lupa untuk mencium kedua pipi Hangeng seperti biasanya jika mereka bertemu atau pamitan.

Di Flat…

“Vania kau sudah pulang lagi??” tanya paman Shuk Hwan saat Vania melintas di depan kamarnya.

“Ia paman. Paman aku langsung ke kamarku dulu yah, nanti kita ngobrol lagi” Vania langsung menaiki anak tangga dengan tergesa dan sekarang dia sudah berada di depan pintu kamar Jeong Hoon dengan nafas yang terengah-engah.

Vania mengatur nafasnya sebelum akhirnya dia mengetuk pintu kamar Jeong Hoon.

Tok…Tok…Tok….

Dengan pelan Vania mengetuk daun pintu di depannya, namun tidak ada jawaban dari balik pintu itu.

Tok..Tok..Tok…

“Jeong Hoon-ssi, apa kau di dalam??”

Tidak lama kemudian, akhirnya Jeong Hoon membuka pintunya, dengan mata yang merah, badan penuh keringat dan pucat.

“Ada apa??” tanya Jeong Hoon pelan.

“Ehmm..anu, aku…tadi aku dengar dari Gege katanya kau sakit, dan tidak masuk kerja, jadi aku pikir aku ingin melihat keadaanmu karna kau kan tinggal di sebelah kamarku, hehe…”

“Masuklah….” Jeong Hoon kembali masuk dan mempersilahkan Vania untuk memasuki kamar sederhananya itu.

Saat masuk, Vania melihat ada sepasang sendal Hello Kitty yang saat itu Jeong Hoon beli di Supermarket bersamanya dan Vania melihat Jeong Hoon sedang memakai sendal rumah biasa dan bukan sendal Hello Kitty itu.

“Kenapa dia tidak memakai sendal Hello Kitty ini?? Bukankah waktu itu dia bilang menyukai Hello Kitty juga?? Tapi kenapa yang dia pakai sendal biasa itu?” gumam Vania.

“Ehm…kenapa kau tidak memakai sendal Hello Kitty ini?? Bukannya kau waktu itu suka Hello Kitty yah?” akhirnya Vania memberanikan diri untuk membuka suara duluan.

“Pakailah, it’s yours. Waktu itu aku sengaja membelinya untukmu supaya setiap kali kau berada di kamarku, kau bisa memakai sendal itu” ucap Jeong Hoon datar dan dia membaringkan tubuhnya di sofa ruang tengah.

“Jadi, waktu itu dia membeli sendal ini bukan untuknya?? Tapi untukku?? Kenapa hal sekecil ini saja dia bisa memperdulikannya??” hati Vania bergumam lagi.

“Ehmm…Jeong Hoon-ssi, apa kau masih sakit? Apa yang kau rasakan?? Apa ada yang sakit?” Vania mendekati Jeong Hoon yang sudah terbaring lemas dan tidak sengaja dia memegang tubuh Jeong Hoon yang cukup panas.

“Astaga, Jeong Hoon-ssi, badanmu panas, kau demam, kita ke Rumah Sakit yah. Aku akan memanggil paman Shuk Hwan” Vania beranjak dari tempat duduknya namun dengan cepat Jeong Hoon menarik tangan Vania.

“Tidak usah, aku cukup istirahat saja nanti juga pasti baikan” jawab Jeong Hoon menatap Vania lekat dan melepaskan tangan Vania dan kembali menutup matanya dengan punggung lengannya.

“Apa yang bisa aku lakukan sekarang??”

“Terserah kau, aku mau tidur dulu”

Vania tertegun, dia terus menatap ke arah Jeong Hoon. Hatinya merasa tidak tega melihat Jeong Hoon sakit seperti itu, walaupun hanya demam. Setelah Jeong Hoon benar-benar tidur, dia masuk ke dapur mininya Jeong Hoon membuatkan bubur untuknya dengan penuh semangat. Untung dia pernah belajar dari Bundanya bagaimana cara membuat bubur, jadi dia tidak usah repot2 harus bertanya pada Bundanya. Pikir Vania.

Dan saat dia melihat jam tangannya, ternyata sudah sore, waktunya dia untuk bekerja. Vania sempat dilema, sebenarnya dia ingin tetap berada di sana menemani Jeong Hoon sampai dia bangun lagi, tapi dia juga harus pergi bekerja dan tidak mungkin harus bolos. Setelah memikirkan matang-matang, akhirnya Vania meninggalkan Jeong Hoon yang masih lelap tertidur. Vania menyiapkan bubur di meja dapur Jeong Hoon dan menuliskan sebuah note kecil untuknya.

@Seoul FM

“Hello Miss Lee”

“Ah,Hello Bos…maaf aku agak terlambat, tadi ada temanku yang sakit” jawab Vania dengan nafas yang terengah-engah.

“Ye..gwaenchana, lama yah kita tidak bertemu”

“Ehm,,,karna Bos terlalu sibuk, hehe..”

“Oya kemarin aku sempat liburan ke Australia, ini oleh-oleh untukmu” Mr. Hong memberikan boneka kanguru untuk Vania.

“Waahh..bonekanya lucu Boss, gomawoyo..”

“Hmm…Vania lagi, Vania lagi, terus aku mana Bos??” Bae Eunsun yang melihat Mr. Hong memberikan boneka untuk Vania langsung cemberut.

“Oya,,punyamu ada di ruanganku, nanti istirahat kamu ke ruanganku yah. Baiklah kalau begitu aku kembali ke ruangan dulu, kalian kembali bekerja”

“Baik Bos, terima kasih bonekanya” ucap Vania agak berteriak karna si Bos sudah berlalu.

“Aku nanti ke ruanganmu Bos” teriak Ensun juga dan si Bos hanya mengangkat tangannya tanda mengiyakan tanpa menoleh lagi ke belakang.

“Annyeong listeners, selamat sore semuanya, hari ini seperti biasa acara Tell Me Your Wish nya sore yah, hehe…Kali ini Vania punya satu surat yang pengirimnya Vania udah ga asing lagi, dia udah Vania anggap kaya adik Vania sendiri, hehe…Oya, sebelum Vania bacain surat yang pertama ini, Vania mau nyapa dulu seseorang yang sekarang ini lagi sakit, dia temen Vania, Vania do’ain moga dia cepet sembuh dan semoga dia juga suka sama bubur buatan Vania,amin. Hehehe….”

“Ok..listeners, siap untuk surat yang pertama yah, judulnya Can You Hear Me…”

From : Cho Soorin

Aku mengenal dia tepatnya 3 minggu yang lalu. Namanya Mr. Y, dia adalah teman dari sahabat kecilku. Pertama kali aku melihatnya, aku tidak merasakan apapun, malah aku benar-benar tidak suka dengan sikapnya yang sok dekat padaku. Aku bukan tipe orang yang mudah dekat dengan orang yang baru aku kenal, tapi dia selalu berusaha untuk mendekatiku terus. Selalu mencari kesempatan untuk bisa berdua denganku, aku benar-benar muak dengan sikapnya. Tapi ada kejadian di mana aku melihat sisi yang lain dari dirinya, dia beda dari laki-laki yang aku kenal, saat aku tidak sengaja menyentuh tangannya, dia langsung menjauh dariku. Dia bilang dia tidak ingin bersentuhan dengan wanita yang belum pantas untuk dia sentuh. Memang selama ini dia mendekatiku juga tidak pernah sampai menyentuh tanganku atau tubuhku. Dia bilang jika dia mencintai seorang wanita, maka dia akan menjaga wanita itu dengan baik sampai nanti akhirnya dia bisa memiliki wanita itu seutuhnya, baru dia berani untuk menyentuhnya. Aku tidak mengerti, apakah maksud dari ucapannya itu adalah dia mencintaiku?? Dia tidak ingin bersentuhan denganku karna dia ingin menjagaku sampai akhirnya dia bisa memilikiku?? Sekarang rasa muak saat aku menerima sikap sok dekatnya itu berubah menjadi rasa rindu, rindu saat dia terus mendekatiku dan memperhatikan aku. Dan harapanku sekarang adalah, jika memang yang dia maksud adalah aku, wanita yang dia cintai, aku ingin sekali dia menyatakan cintanya langsung padaku, karna yang aku rasakan sekarang juga bahwa aku menyadari kalau aku juga mencintainya. Semoga dia mendengar acara ini, Mr. Y bisakah kau mendengarku??? Mendengar isi hatiku?? Bahwa aku juga sebenarnya mencintaimu….

PS : Vania eonni tolong putar lagu Kim Taeyeon yah yang Can You Hear Me, itu lagu khusus untuk Mr. Y tadi, hehe..gomawo eonni-ah, saranghae…^^

“Baiklah Soorin dongsaeng, semoga Mr. Y mu itu mendengar suratmu ini yah, dan ini lagu khusus yang eonni putar untukmu, cekidot…

*Play lagunya buat dengerin…

Selesai membaca surat pertama dari pendengarnya, Vania termenung. Apalagi dia juga ikut mendengar lagu yang dia putar, seolah lagu itu menggambarkan isi hatinya sekarang. Dia merasakan sesuatu yang aneh dari hatinya, apakah benar kalau dia sekarang menyukai Jeong Hoon??

-=-=-=-=-=-=-

“Miss Lee, kau di jemput siapa?? Apa Gege menjemputmu??” Mr. Hong bertanya pada Vania yang sudah siap untuk pulang.

“Ehmm…entahlah tapi sepertinya Gege tidak bisa menjemputku katanya tadi dia masih sibuk di kantor”

“Oh,,baiklah kalau begitu, Eunsun-ah kajja”Ensun tiba-tiba muncul dari balik punggung Mr. Hong.

“Yaak..kenapa bisa kau pulang bersama si Bos?” Vania berbisik pada Eunsun dan Eunsun hanya tersenyum.

“Nanti saja aku cerita yah, hehe…Bye eonni, hati-hati pulangnya yah…annyeong”

“Ciih,,ada apa sebenarnya dengan mereka? Kenapa Ensun bisa pulang dengan Mr. Hong?? Haha..orang-orang aneh” Vania menunggu di depan kantornya, berharap ada Taksi yang masih melintas, namun baru 10 menit dia menunggu, tiba-tiba ada mobil Rush silver yang berhenti di depannya dan Vania menatap aneh, sepertinya dia kenal dengan mobil itu.

“Hai…” Jeong Hoon turun dari mobilnya dan menghampiri Vania sambil menebar senyum manisnya.

Tiba2 jantung Vania terasa berdegup lebih kencang dari biasanya, dia terpesona melihat senyuman Jeong Hoon.

“Hai…Jeong Hoon-ssi, kenapa kau ke sini??Bukannya kau sedang sakit?? Bagaimana demammu?” saking cemasnya dengan keadaan Jeong Hoon, Vania spontan memegang kening Jeong Hoon dengan wajah khawatir.

“Aku sudah baik-baik saja, kau jangan khawatir lagi”

“Oh,,begitu, ehm..maaf aku tidak bermaksud menyentuhmu” dengan cepat Vania menarik tangannya sendiri dari kening Jeong Hoon dan sekarang dia merasakan wajahnya yang memanas.

“Gwaenchana, terima kasih kau sudah mengkhawatirkanku. Oya, ayo masuk, aku sengaja ke sini untuk menjemputmu” Jeong Hoon membukakan pintu untuk Vania dan dengan ragu-ragu Vania akhirnya masuk ke mobil itu.

“Oya,,terima kasih untuk buburnya dan notes nya, do’a mu di kabulkan cepat oleh Tuhan, sekarang aku sudah sembuh” Jeong Hoon tersenyum lagi pada Vania.

“Jinjayo?? Haha,,baguslah, kalau begitu aku akan bilang terima kasih pada Tuhan karna sudah menyembukanmu” Vania membalas senyuman Jeong Hoon.

Drrtt…drrttt…

Handphone Vania tiba-tiba bergetar, dia melihat di layarnya satu pesan baru dari Hangeng.

“Kau pulang naik apa sekarang?? Benar-benar maaf tidak bisa menjemputmu, hati-hati pulang nya yah, kalau sudah sampai flat cepat hubungi aku lagi…Love u…;) “

“Pesan dari siapa?? Apa dari Gege??” mendengar pertanyaan Jeong Hoon, Vania cepat2 memasukkan Handphone nya lagi ke dalam tas.

“Ye..?? Ah..ia..”

“Apa perlu aku menghubunginya kalau kau sekarang pulang bersamaku??”

“Yeee..??? Ah,,anhio. Biar nanti aku menghubungi dia sesampai di flat”

“Oh..baiklah”

Setelah pembicaraan singkat mereka itu, Vania dan Jeong Hoon tidak mengucapkan sepatah katapun lagi, hening hanya suara mesin mobil yang terdengar di tengah deru angin malam.

“Vania-ssi…jamkkaman” Jeong Hoon menarik tangan Vania saat mereka sampai di Flat dan Vania akan naik ke atas.

“Ne…??”

“Ehm…maukah kau ikut denganku ke suatu tempat??”

“Eodi??”

Jeong Hoon melepaskan genggamannya, dia menaiki anak tangga sampai ke lantai paling atas dan Vania mengikutinya dari belakang.

“Jeong Hoon-ssi, mau apa kita ke sini?? Aku takut jatuh” Vania tidak berani menatap ke bawah saat Jeong Hoon menaiki genting atap flat.

“Berikan tanganmu, tenang saja kau tidak akan jatuh, ada aku di sini” Jeong Hoon mengulurkan tangannya ke arah Vania, meskipun masih di liputi rasa takut, akhirnya Vania menyambut uluran tangan Jeong Hoon dan sekarang mereka berdua sudah duduk di atas genting.

“Jeong Hoon-ssi di sini dingin sekali, lagipula bukankah kau baru sembuh, sekarang malah diam di tempat dingin seperti ini?? Lebih baik kita masuk saja yah”

“Pakailah ini” Jeong Hoon melingkarkan jaket yang dia pakai ke pundak Vania.

“Ah,,anhi, kau kan sedang ssakit, lebih baik kau saja yang pakai” Vania melepaskan jaket itu, tapi Jeong Hoon melingkarkannya lagi di pundak Vania.

“Aku laki-laki, udara sedingin ini tidak akan membuatku mati juga kan?? Hehe…”

“Oya, kenapa kau membawaku ke sini???”

“Sebenarnya, selama beberapa hari belakangan ini aku mengacuhkanmu, aku sering datang ke tempat ini”

“Jinja?? Untuk apa?”

“Entahlah…tapi setiap kali aku ke sini dan menatap bintang-bintang itu, aku merasakan ketenangan. Bintang-bintang itu mengingatkan aku pada seseorang”

“Dugu??? Apa diaaa…kekasihmu??”

“Anhi…dia seseorang yang dulu pernah sangat aku cintai, dia dekat denganku tapi entah kenapa aku selalu merasa jauh dengannya. Kebalikan dari saat aku melihat bintang2 itu, mereka terasa dekat, tapi ternyata jika di ukur jaraknya mereka sangat jauh”

“Jeong Hoon-ssi, apa aku boleh menanyakan sesuatu padamu??”

“Mwo??”

“Sebenarnya, belakangan ini kenapa kau tiba-tiba mengacuhkanku?? Dan apa hubungannya kau mengacuhkanku lalu kau diam di tempat ini dan mengingat seseorang itu??”

“Masalah itu, sebelumnya aku mau minta maaf padamu, mungkin sikapku padamu terlalu kekanak-kanakan. Aku tiba-tiba mengacuhkanmu tapi kau sendiri tidak tau apa masalahnya, apa alasan yang membuatku bersikap seperti itu, ia kan??”

“Tapi maafkan aku, untuk saat ini aku tidak bisa bilang apa alasannya, tapi tidak lama lagi, akan ada waktunya aku mengatakan itu semua, aku harap kau bisa mengerti, tidak apa-apa kan??” Jeong Hoon menatap Vania lekat dan Vania sempat tersentak karna dia tidak bisa memalingkan wajahnya dari tatapan Jeong Hoon.

“Ehm..baiklah kalau itu maumu, aku akan menunggu sampai waktu itu tiba, tapi aku mohon jangan acuhkan aku lagi seperti kemarin-kemarin, arasso??” Vania langsung memalingkan wajah dari tatapan Jeong Hoon.

“Wae..?? Apa kau merasa kehilanganku saat kemarin-kemarin aku mengacuhkanmu??” Jeong Hoon menatap Vania dengan tatapan menggodanya.

“Haha..kau ini bicara apa, untuk apa aku merasa kehilanganmu?? Jangan mimpi, sudah ah aku mau masuk dulu sudah malam, kalau kau masih ingin di sini silahkan saja, dah..” Vania dengan cepat beranjak sampai-sampai kakinya terkilir dan hampir jatuh, spontan Jeong Hoon menarik tangan Vania dan akhirnya tubuh Vania jatuh tepat di atas tubuh Jeong Hoon. Alhasil wajah dan tubuh mereka pun saling berdekatan, Vania bisa merasakan detak jantung Jeong Hoon yang berdegup lebih kencang begitu juga sebaliknya, dalam hitungan detik mereka saling menatap, sampai akhirnya penghuni kamar yang tepat berada di bawah mereka, berteriak-teriak.

“Hei..siapa itu di atas??”

Vania langsung melepaskan tubuhnya dari Jeong Hoon. Dengan wajah memerah Vania akhirnya pamit pada Jeong Hoon. “Akk…ku..aku..masuk duluan”

Jeong Hoon bangun dan hanya tersenyum melihat tingkah Vania yang gugup seperti tadi.

Vania menutup rapat kamarnya, dia menyender di daun pintu dan memegang dadanya yang masih berdegup sangat kencang.

“Ya Tuhan, perasaan apa ini?? Kenapa jantungku sekarang berdegup sangat kencang?? Dan kenapa tadi aku merasakan sesuatu yang aneh dengan perasaanku saat aku mendengar degup jantungnya yang begitu jelas??? Aahhh..eomma, tolong aku, apakah benar aku jatuh cinta padanya??” Vania berperang dengan hati dan pikirannya.

-=-=-=-=-=-=-=-=-

“Pagi Hangeng-ah…” sapa Bibi Gae Hwa yang sedang berada di halaman flat.

“Pagi ahjumma…”

“Kau mau bertemu Vania yah??”

“Ehm…ada sesuatu yang ingin aku berikan padanya”

“Whoaaa,,,kau benar-benar pria yang romantis yah, selalu memberi hadiah padanya, coba paman Shuk Hwan juga sepertimu, bibi pasti bahagiaaaa sekali, sayang pamanmu itu tidak seromantis kau Hangeng-ah”

“Apa..apa…sepertinya pagi-pagi begini sudah ada yang menyebut namaku lagi” paman Shuk Hwan tiba-tiba keluar dari kamarnya dan menghampiri Hangeng dan bibi Gae Hwa di halaman.

“Ahh..kau ini, telingamu itu seperti ada radarnya saja, setiap kali ada yang membicarakanmu pasti langsung tau, huh…”

“Haha..makannya kau jangan sembarangan membicarakan suamimu ini, apapun yang kau ucapkan aku pasti akan tau, haha..”

“Paman, bibi, aku ke atas dulu yah mau menemui Vania”

“Oh..ia..ia Hangeng, maaf yah kau harus mendengar dulu pamanmu ini berceloteh tidak jelas”

“Apa kau bilang?? Berceloteh?? Memangnya kau pikir aku ini burung??”

“Hah..sudahlah, aku juga mau masuk dulu, nih teruskan menyapunya”

“Ciih,,istri macam apa kau ini, menyuruh-nyuruh suamimu seenaknya”

***

“Hei..” sapa Hangeng dengan lembut saat Vania akhirnya membukakan pintu kamarnya dengan mata yang masih lengket.

“Kau baru bangun?”

“Ehm…oya tumben kau ke sini, ada apa??”

“Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin memberikan ini untukmu untuk menebus rasa bersalahku karna semalam tidak bisa menjemputmu” Hangeng memberikan sebuah kotak kecil pada Vania.

“Ige mwoya??”

“Nanti saja kau bukanya. Oya semalam kau kenapa tidak menghubungiku lagi?? Aku mencemaskanmu, aku kira kau marah, makannya aku datang ke sini dulu sebelum aku pergi ke kantor”

“Heh?? Ehm…itu…semalam aku ketiduran, aku kelelahan, jadi aku lupa menghubungimu lagi, hehe..mian”

“Oh..begitu”

“Oya, tunggu sebentar yah aku mau ke kamar mandi dulu, cuci muka dan sikat gigi, kau duduk saja atau buat minum sendiri, eoh??”

“Baiklah, kau tenang saja. Aku bisa mengambil minum sendiri”

Saat Vania berada di kamar mandi, Hangeng melihat kamar Vania yang terbuka. Dia melangkah mendekati kamar itu dan sekarang dia berada di dalamnya. Hal yang memang biasa Hangeng lakukan, dia pasti akan masuk ke kamar Vania memastikan bahwa tidak ada sesuatu yang Vania sembunyikan darinya dan itu sudah Hangeng lakukan selama belasan tahun dia mengenal Vania.

Hangeng melihat semua isi kamar Vania tidak ada yang berubah, masih sama seperti saat terakhir dia melihatnya beberapa hari yang lalu. Tapi Hangeng menemukan sesuatu yang membuatnya heran dan bertanya-tanya. Dia mengambil sesuatu itu dan keluar dari kamar Vania, menunggu Vania keluar dari kamar mandi di ruang tengah.

“Ko tidak minum?? Apa mau kau buatkan??” Vania menghampiri Hangeng yang sedang duduk di kursi ruang tengah sambil menunduk.

“Ini jaket siapa???” Hangeng beranjak, menunjukkan sesuatu yang dia temukan di kamar Vania dan sekarang dia menatap Vania lekat.

Vania tersentak, mulutnya terasa kaku tidak bisa berkata apa-apa saat melihat Hangeng memegang jaket Jeong Hoon yang semalam lupa dia kembalikan pada Jeong Hoon.

“Kenapa kau diam??”

“Ehmm,,ituuu…”

“Vania-ssi, aku mau mengambil jaket….” Jeong Hoon tiba-tiba masuk ke kamar Vania, belum sempat dia meneruskan ucapannya, Jeong Hoon langsung terdiam saat melihat Hangeng ternyata ada di sana dan sedang memegang jaket yang akan dia ambil.

Hangeng menatap dalam ke arah Jeong Hoon, Jeong Hoon hanya menatap pasrah dan Vania hanya bisa berdiri kaku melihat 2 namja yang sedang saling menatap itu di hadapannya. Tidak ada yang bisa dia ucapkan, bahkan dia tidak tau bagaimana dengan perasaannya sekarang, ada Hangeng laki2 yang dia cintai selama belasan tahun dan juga ada Jeong Hoon yang belakangan ini kerap membuat jantungnya selalu berdegup kencang setiap kali di dekatnya.

Apa yang akan terjadi selanjutnya??? Apa Hangeng akan marah pada Vania kalau ternyata sekarang Vania sedang dekat dengan Jeong Hoon?? Lalu apa yang akan di ucapkan Jeong Hoon pada Hangeng kalau ternyata Vania yang di cintainya itu telah berhasil merebut hatinya. Siapa yang akan di pilih Vania pada akhirnya?? Jangan lupa untuk terus ikutin lanjutannya…..

~ TBC ~

Di tunggu RCL nya, gomawo…^^

Your coMmenT is so pReciOus...^0^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s