[ONESHOOT] Winter in Seoul


Author : Pinky Girl

Main Cast : Gongchan, Jiyeon, Minwoo

Support Cast : Find ur self..;)

Genre : Romance , Life

Rating : PG 17

Type : One Shoot

Poster by YeonNia Art Work

Chingu Please..Please RCL nya yah…;)

Happy Reading

“Chanie-aaaaaahh..” Jiyeon memanggil Gongchan dengan sekencang-kencangnya dan membuat orang yang ada di lapangan basket itu melihat ke arah Gongchan dan Jiyeon sekarang ini.

Dia berlari menghampiri Gongchan dan memeluk tangannya.

“Yaa..kau tidak perlu berteriak seperti itu untuk memanggilku, memangnya kau pikir aku ini tuli apa??” Gongchan menutup wajahnya dengan buku yang dia pegang karna malu.

“Memangnya kenapa?? Kau malu?? Hei..hei..Chanie-ah..Chanie-ah..” Jiyeon berteriak memanggil nama Gongchan berkali-kali dan Gongchan langsung membekam mulut Jiyeon.

“Euuu…” Jiyeon berusaha bicara namun Gongchan tetap membekam mulutnya.

Tapi akhirnya Gongchan melepaskan tangannya dari mulut Jiyeon.

“Ya..kau mau mebunuhku yah??”

“Salahmu sendiri, bertingkah bodoh, kau memang tidak pernah berubah”

“Hah,,kalo aku berubah, apa kau suka, huh?? Oya my beetle, aku pinjam catatan Bahasa Inggrismu lagi yah, kemarin aku malas mencatatnya, kau tau kan aku selalu mengantuk tiap kali pelajaran si Pak Botak itu” Jiyeon mengerucutkan bibirnya.

“Hah,,lagipula kapan sih kau tidak malas?? Yang aku tau tiap pelajaran kau selalu malas untuk mendengarkan penjelasan Guru”

“Aigo…My beetle, kau sepertinya sudah sangat memahami aku yah, haha..” Jiyeon tertawa puas.

“Babo..” Gongchan memukul kening Jiyeon.

“Yaa..channie-ah, nappeun..” Jiyeon mengelus-ngelus keningnya yang putih dan mulus itu.

Saat menuju kelas, Jiyeon dan Gongchan bercanda sepanjang jalan dan tiba-tiba Jiyeon tidak sengaja menabrak tubuh seseorang karna saat itu Jiyeon berjalan mundur.

Bruuk..

Semua buku yang di bawa orang itu berjatuhan…

“Omooo…mianhamnida chingu, akuuu…” Belum Jiyeon menyelesaikan ucapannya, dia malah terus menatap orang itu dengan tatapan terpesona.

“Biar aku bantu bereskan” Gongchan dengan sigap langsung membereskan buku-buku itu.

“Gomawo..” ucap orang yang di tabrak Jiyeon tadi dengan datar dan dia langsung pergi meninggalkan Jiyeon yang masih mematung menatapnya.

“Babo..dia sudah pergi, apalagi yang kau lihat??” ucapan Gongchan membuyarkan lamunan Jiyeon dan dia juga pergi meninggalkan Jiyeon.

“Yaa..My beetle, jamkkanmanyo….” Jiyeon berlari dan berusaha mengejar Gongchan.

Di kelas…

“Chaniie-ah, laki-laki tadi siapa yah?? Sepertinya kita belum pernah melihat dia yah?” Jiyeon menempelkan pensil di kepalanya mencoba berfikir apakah laki-laki itu memang murid di sekolahnya atau murid baru.

Tidak lama guru datang dan membawa seseorang.

“Channie-ah, lihat itu kan laki-laki yang tadi??” Jiyeon menunjuk-nunjuk ke arah laki-laki itu dengan pensilnya.

“Ssstt…diam dan dengarkan apa yang ingin di katakan oleh Pak Guru”

Gongchan dan Jiyeon memasang telinga mereka baik-baik untuk mendengarkan ucapan Guru mereka.

“Selamat Pagi anak-anak″

“Pagi Pak Guru…”

“Anak-anak hari ini kita kedatangan murid baru, dia pindahan dari Gwangnam, Min Woo silahkan perkenalkan dirimu”

“Annyeong Haseyo chingudeul…Min Woo imnida, aku pindahan dari Gwangnam, mohon bimbingannya”

“Ne…Min Woo-ssi manaseyo bangapseumnida…” jawab murid-murid dalam kelas itu dengan serentak.

Min Woo duduk dengan murid bernama Jin Hoo dan tepat di sebelah Gongchan yang duduk dengan Jiyeon. Dan selama pelajaran berlangsung Jiyeon terus memandang Min Woo.

Jam Istirahat

“Min Woo-ssi tunggu..” Jiyeon menghampiri Min Woo yang baru keluar dari kelas.

“Mwo??”

“Ah..ehmm..soal tadiii, aku mau minta maaf, aku tadi tidak sengaja menabrakmu, lagipulaaa…”

“Ye,,gwaenchanayo…”

“Ne..??”

“Oya,,kita belum kenalan secara langsung, Min Woo imnida”

“Ah..Jiyeon imnida..” Jiyeon menyambut tangan Min Woo dan menyalaminya dengan wajah sumringah.

“Kau,,mau temani aku istirahat??”

“Ne..?? Ah,,ye, tentu saja..” Jiyeon langsung pergi bersama Min Woo dan tidak menghiraukan Gongchan yang sedari tadi menunggunya di pintu.

Pulang Sekolah…

“Channie-ah,,tunggu aku….” Jiyeon berusaha mengejar Gongchan yang waktu keluar kelas langsung pergi meninggalkan Jiyeon dan tidak menghiraukannya sama sekali.

“Ya..Channie-ah, wae gurae?? Kenapa kau meninggalkanku?? Kau ini kenapa sih?? Sehabis istirahat tadi ko sepertiya jadi jutek padaku??”

Gongchan tidak menjawab, dia terus mempercepat langkahnya.

@Gongchan’s House

“My beetle kau sedang apa???”

Gongchan hanya membaca pesan dari Jiyeon itu dan dia langsung menaruh kembali Hp nya di kasur.

5 menit kemudian…

“Channie-ah, kau sudah tidur??”

Akhirnya Gongchan memutuskan untuk memejamkan matanya dan tidak membalas semua pesan-pesan Jiyeon yang langsung memberudul.

Keesokan harinya….

“Channie-ah…” Jiyeon menghampiri Gongchan yang berjalan di lapangan basket menuju kelas.

“Ya…babo-ah, kenapa semalam kau tidak membalas pesan-pesanku??”

“Memangnya kau mengirimku pesan?”

“Aku mengirim 10 pesan padamu, ara??”

“Jinja?? Tapi pesan-pesanmu tidak masuk” Gongchan terus berjalan tanpa melirik Jiyeon sedikitpun.

“Hei…Jiyeon..” terdengar suara seseorang memanggil Jiyeon dan Jiyeon langsung menoleh ke arah orang itu.

“Hei..Min Woo…” Jiyeon melambaikan tangannya dengan wajah yang berseri-seri sampai-sampai dia tidak menyadari kalo Gongchan sudah menghilang dari hadapannya.

Akhirnya Jiyeon dan Min Woo berjalan bersama menuju kelas.

Di kelas…

“Channie-ah, ko kamu duduk sama Jin Hoo??”

“Aku sedang ingin duduk bersamanya” Gongchan menjawab dengan sangat datar.

“Lho, terus aku duduk dengan siapa??”

“Kalo begitu kau duduk saja denganku” Min Woo menawarkan diri untuk duduk bersama Jiyeon dan jelas itu membuat Jiyeon bahagia bukan kepalang.

5 jam kemudian…

“Baik anak-anak, sekian dulu pelajaran dari Bapak, besok jangan lupa kerjakan PR kalian yah..Annyeong”

“Annyeong Pak Guru..”

“Jiyeon, kau mau menemaniku istirahat lagi kan??”

“Ne..?” Jiyeon sempat melihat ke arah Gongchan namun yang di lihatnya itu masih sibuk membereskan buku-buku ke dalam tas nya.

“Jammkanmanyo..” Jiyeon berdiri dan menghampiri Gongchan.

“Channie-ah,aku mau istirahat dengan Min Woo, kau tidak apa-apa, kan sendirian??”

“Pergilah, lagipula aku tidak ingin istirahat” Gongchan menatap Jiyeon sinis.

“Ye…? Wae??”

“Jiyeon, kaja..” Min Woo menarik tangan Jiyeon dan dia akhirnya pergi dengan Min Woo meninggalkan Gongchan yang belum sempat menjawab pertanyaannya.

Di kantin…

“Kau mau makan apa??”

“Ye..?? Ah..aku dan Gongchan suka memesan Nugget asam manis *kantinnya pasti mewah banget, menunya pake ada yang begituan segala..lol

“Oh..baiklah, biar aku pesankan”

“Jiyeon, boleh aku bertanya sesuatu?” sambil menunggu makanannya datang, Min Woo mengajak ngobrol Jiyeon, dia duduk di depan Jiyeon.

“Mwo??”

“Apakah kau dan Gongchan punya hubungan khusus??”

“Ohok..ohok..” Jiyeon yang sedang minum air putih tiba-tiba tersedak mendengar pertanyaan Min Woo tadi.

“Jiyeon,,gwaenchana??” Min Woo mengelus-ngelus punggung Jiyeon.

“Ah..ye, gwaenchana..” Jiyeon tersenyum

“Maaf kalo pertanyaanku tadi terlalu pribadi”

“Ah..aniyo,,hmm..sebenarnya aku dan Gongchan teman sejak SMP, kami sangat dekat dan karna sekarang juga kami satu SMA, jadi hubungan kami semakin dekat, tapi itu hanya sebatas teman, bagiku dia adalah sahabat yang terbaik, karna dia sangat mengerti aku”

“Jinja??”

“Ya,,tentu saja benar” Jiyeon merasa sekarang wajahnya mulai memerah karna Min Woo menatapnya dengan lekat.

“Ah,,makanannya sudah datang, ayo kita makan, pasti enak, hehe…” Jiyeon berusaha mengontrol dirinya untuk tidak salah tingkah di depan Min Woo dan dia mengalihkan pandangan Min Woo dengan menyentuh Nuggetnya yang sudah datang.

Min Woo hanya tersenyum melihat tingkah Jiyeon saat makan.

“Ternyata kau lucu juga yah??”

“Ye…??”

Dag..Dig..Dug..

“Ya Tuhan semoga dia tidak mendengar suara detak jantungku sekrang ini yang sangat keras seperti dentuman bom yang mau meledak” gumam Jiyeon dalam hati.

3 minggu berlalu, Jiyeon semakin dekat dengan Min Woo dan hubungannya dengan Gongchan semakin renggang karna sekarang Jiyeon lebih sering pergi sekolah, pulang sekolah dan istirahat pun bersama Min Woo. Gongchan pun seolah tidak mau mengganggu kebahagiaan yang sekarang ini di rasakan Jiyeon, jadi dia hanya akan menjawab pertanyaa Jiyeon seperlunya, dan jika mereka bertemu Gongchan hanya menyapa dengan senyuman datar.

***

“Teman2 hari ini datang yah ke acara Ulang Tahunku yang 17 tahun…” Jiyeon membagi-bagikan undangan ke teman-teman sekelasnya.

“Wah,,,asyiik,kita makan-makan..”

“Min Woo-ah, kau pasti datang kan malam ini??” Jiyeon memberikan undangan pada Min Woo dengan wajah tersipu.

“Tentu saja, karna aku akan memberikan kejutan padamu”

“Apa?? Kejutan?? Kejutan apa??”

“Hmm..kalo aku beritau, bukan kejutan lagi namanya”

“Oh,,baiklah, kalo begitu aku jadi tidak sabar ingin cepat-cepat malam hari, hehe…”

Gongchan yang melihat keakraban antara Jiyeon dan Min Woo tak mampu berkata apa-apa, dia merasa sudah kehilangan sosok Jiyeon yang selama ini selalu menempel dengannya ke manapun.

***

Jiyeon mengenakan gaun berwarna putih di acara Sweet Seventeen nya, terlihat dia sedang mencari sosok seseorang yang belum juga datang. Tidak lama kemudian Gongchan datang sendirian mengenakan kemeja kotak-kotak putih dan membawa sebuah kado.

“Hei..Channie-ah, terima kasih yah sudah datang” Jiyeon mencium kedua pipi Gongchan dengan pipinya.

“Selamat Ulang Tahun.” Gongchan menyerahakn kadonya pada Jiyeon.

“Waaahh…kau memberiku kado juga?? Hmm…ini pertama kalinya kau memberiku kado yang lumayan besar, haha..”

Gongchan sempat ingin mengatakan sesuatu, tapi tiba-tiba seseorang mengalihkan pandangan Jiyeon, dan orang itulah yang sedang di tunggu-tunggu Jiyeon.

“Min Woo-ah..kau akhirnya datang juga” Jiyeon tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya melihat kedatanagn Min Woo dan Gongchan hanya bisa mematung saat Jiyeon menarik tangan Min Woo untuk masuk ke dalam rumahnya.

Pesta pun di mulai, Jiyeon mengucapkan terima kasih pada semua teman-temannya yang sudah hadir di acara Ulang Tahunnya yang ke 17 itu, tidak lama kemudian semua teman-temannya menyanyikan lagu Ulang Tahun untuknya dan Jiyeon meniup lilin Kue Ulang Tahunnya.

“Jiyeon-ah, kau mau memberikan fisrt cake ini untuk siapa??” kakak Jiyeon yang ada di sebalahnya, membantu memotong Kue Ulang Tahun adik tersayangnya itu.

Jiyeon langsung meilirik ke arah seseorang.

“Min Woo-ah, ini untukmu” Jiyeon akhirnya memberikan Fisrt Cake nya itu untuk Min Woo dan tentu Gongchan yang melihatnya sangat sedih karna padahal setiap Jiyeon Ulang Tahun, Gongchan lah yang selalu di beri First Cake, dan dengan hati yang sakit Gongchan langsung meninggalkan ruangan itu.

***

Selesai tiup lilin, potong kue dan makan-makan, Jiyeon dan Min Woo mengobrol di taman belakang rumah.

“Jiyeon-ah…kau sangat cantik malam ini” Min Woo menatap Jiyeon yang duduk di sebelahnya di kursi taman belakang rumah.

Dag..Dig..Dug..Dag..Dig..Dug..

Jiyeon semakin tidak bisa mengontrol hatinya setiap kali berada di samping Min Woo.

Min Woo mengeluarkan sebuah kotak kecil.

“Ini hadiah kecil untukmu, semoga kau suka”

“Ige mwoya??” Jiyeon membuka kotak itu.

“Omoo..Min Woo-ah cantik sekali”

“Kau suka??”

“Ehmm…” Jiyeon mengangguk mantap

“Sini biar aku pakaikan” Min Woo memakaikan kalung berliontin hati ke leher Jiyeon.

“Yeppeota…” Jiyeon memegang terus kalungnya dengan sumringah.

“Gomawo Min Woo-ah….”

“Ne..choenmaneyo…”

“Jiyeon-ah…”

“Ehmm..??”

“Ada yang ingin aku katakan”

“Mwo??” Jiyeon memandang ke arah Min Woo.

“Sebenarnya dari pertama kali aku mengenalmu, aku sudah menyukaimu” Min Woo semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Jiyeon dan membuat Jiyeon hanya bisa terdiam kaku seperti es.

Hancur sudah harapan Gongchan untuk bisa dekat lagi dengan Jiyeon, karna ternyata sekarang Jiyeon benar-benar sedang merasakan kebahagiaanya bersama Min Woo. Gongchan melangkah pergi dengan langkah yang gontai, saat beberapa saat lalu dia melihat Min Woo mencium Jiyeon dan Jiyeon pun tidak menolaknya.

Keesokan harinya….

“Channie-aaahh….” Jiyeon memeluk Gongchan dengan girang saat Gongchan berjalan menuju kelas, tapi Gongchan hanya diam pasrah di peluk Jiyeon *bukan pasrah kali tapi demen, hihihi..;D

“Yaa..kau tau, sekarang aku sedang bahagiaaaaaaa sekali…” Jiyeon berputar-putar untuk mengekspresikan rasa bahagianya.

“Jinja?? Baguslah, lagipula selama ini aku tidak pernah melihat kau sebahagia ini”

“Anhi….kau tidak bertanya kenapa aku bahagia??”

“Karna Min Woo kan??”

“Bagaimana kau tau??? Ahh..ya aku ingat, kau kan sangat mengerti aku, jadi kau pasti sudah tau tentang ini sebelum aku bilang padamu, haha..” Jiyeon mencubit pipi Gongchan.

“Chagia..” Min Woo tiba-tiba datang menghampiri Jiyeon dan Gongchan.

“Yaa…yobo..” Jiyeon langsung melepaskan tangannya yang sedang menggenggam lengan Gongchan.

“Channie-ah,,aku pergi duluan yah, nanti kita bertemu di kelas, eoh??” Jiyeon langsung meninggalkan Gongchan tanpa membiarkan Gongchan untuk menjawab sepatah katapun.

Di kelas…

“Channie-ah, aku mau duduk dengan Min Woo yah, jadi kau duduk dengan Jin Hoo saja, okey??” Jiyeon langsung duduk di bangku sebelah Min Woo tanpa menghiraukan jawaban Gongchan.

Beberapa hari berlalu, Jiyeon semakin menjauh dari Gongchan, dan Jiyeon seolah sedang terbuai oleh rasa cintanya terhadap Min Woo sampai2 dia melupakan Gongchan yang selama ini sudah menemani Jiyeon beberapa tahun dan sangat memahaminya.

“Channie-ah,,,hari ini aku mau kencan dengan Min Woo, dan pasti pulang malam, jadi aku tidak akan sempat mengerjakan PR Matematika untuk besok, kau mau bantu aku mengerjakannya kan,eoh??” Jiyeon menghampiri Gongchan saat keluar kelas pada jam bubar sekolah.

“Anhi…aku malas…”

“Channe-ah,,jebal, eoh??” Jiyeon memasang wajah memelas dengan penuh harapan permintaannya itu di kabulkan Gongchan, dan itulah salah satu kelemahan Gongchan, selalu tidak bisa menolak setiap permintaan-permintaan Jiyeon.

“Ara..ara…mana bukumu, biar nanti aku yang kerjakan PR mu..”

“Choengmal?? Aigoo..gomawoyo My beetle…mwuah..” Jiyeon mengecup pipi Gongchan dan spontan itu membuat Gongchan seolah terpaku tidak dapat melangkahkan kakinya karna kaku, untuk pertama kalinya Jiyeon mencium pipinya.

“Yobo..kaja..” Jiyeon menggenggam tangan Min Woo yang sudah menunggunya di luar kelas.

“Channie-ah, aku pergi yah. Annyeong..” Jiyeon melambai dan dalam beberapa detik dia menghilang dari hadapan Gongchan yang masih terpaku.

***

Karna keadaan keluarganya yang hidup sederhana, memaksa Gongchan akhirnya sekarang harus memikul beban untuk menanggung biaya sekolahnya sendirian. Ayah Gongchan sudah meninggal saat Gongchan berumur 5 tahun karna menderita Leukemia, Ibunya hanya seorang pedagang kue basah di pasar. Dan sudah seminggu ini Ibunya tidak bisa jualan lagi karna sakit, akhirnya Gongchan bekerja sampingan. Sudah seminggu ini Gongchan bekerja sampingan di sebuah pub, sebagai pelayan.

“Channie-, tolong antarkan minuman ini ke meja nomor 20 yah”

“Ne…”

Saat Gongchan akan mengantar minuman ke meja yang di tuju, tiba-tiba dia melihat sosok yang dia kenal, tenyata itu meja Min Woo.

“Bukankah itu Min Woo?? Kenapa dia ada di sini bersama wanita-wanita itu?? Apakah Jiyeon tau?? Brengsek, aku yakin Jiyeon pasti tidak tau” Gongchan mulai emosi melihat Min Woo yang sedang minum-minum dengan wanita lain.

Gongchan mengantarkan minuman itu ke meja Min Woo. Dengan wajah menahan marah, dia menyimpan satu per satu minuman itu di meja. Min Woo masih belum sadar kalo pelayan yang mengantar minuman itu adalah Gongchan. Karna sudah semakin kesal, akhirnya Gongchan pura2 menumpahakn minuman ke baju Min Woo.

“Yaaa….kau ini bisa kerja tidak sih?? Lihat bajuku basah semua, kau tau berapa harga bajuku ini,huh??” Min Woo mengelap-ngelap bajunya tanpa melihat ke arah Gongchan.

“Anhi….aku memang tidak tau berapa harga baju itu, tapi aku tidak peduli, dan sekarang biar aku beri kau pelajaran karna kau sudah mengkhianati sahabatku”

Buggg…

Gongchan mendaratkan tinju ke wajah Min Woo sebanayk dua kali.

“No…??” Min Woo mencoba berdiri dan melawan, tapi akhirnya dia tau kalo ternyata pelayan itu adalah Gongchan.

“Bukankah, kauu..”

“Ya..aku Gongchan, sahabat dekat Jiyeon, kekasihmu, ara?” Gongchan menekankan kata-katanya di depan wajah Min Woo.

Min Woo menghapus darah yang ada di bibirnya karna pukulan Gongchan, dia tidak melawan dan hanya bisa terdiam.

***

“Yobo,,wajahmu kenapa?? Ko memar begitu?? Kau habis bertengkar yah??” Jiyeon memegang wajah Min Woo dengan penuh rasa cemas saat pelajaran sekolah belum di mulai.

Gongchan yang mendengranya hanya menatap ke arah Min Woo dengan wajah masih emosi.

“Ah..anhi, tadi malam hanya ada pertengkaran kecil saja dengan temanku, tidak apa-apa″

“Jinja???”

“Ne…”

Jam istirahat…

“Gongchan Shik…” Jiyeon tiba-tiba datang menghampiri Gongchan yang sedang duduk di kelas dan langsung menampar wajahnya.

“Ya…?? Apa yang kau lakukan??” Gongchan langsung beranjak dari duduknya.

“Apa yang ku lakukan?? Kau tidak perlu pura-pura tidak tau seperti itu, semalam kau menghajar Min Woo kan?? Kau ini kenapa sih, kau tidak suka aku pacaran dengannya? Kenapa, kau cemburu padaku, huh?? Heii..ingat kita ini hanya teman, dan aku tidak suka kalo kau ikut campur urusanku, ara???” Jiyeon langsung pergi meninggalkan Gongchan yang masih kebingungan sebenarnya Jiyeon tau dari siapa kalo semalam dia menghajar Min Woo dan apakah Jiyeon tau apa alasan dia melakukan itu??

***

Hubungan Jiyeon dan Gongchan semakin memburuk, Jiyeon bahkan tidak pernah mau melihat Gongchan atau menyapanya lagi. Gongchan semakin sakit dan sedih, dia benar-benar sudah kehilangan sahabatnya yang selama ini ternyata dia cintai secara diam-diam.

Hari ini saat Gongchan akan pergi bekerja, dia melihat Jiyeon sedang berjalan dengan wajah marah dan terburu-buru. Gongchan mengikuti Jiyeon dari belakang, dan akhirnya Jiyeon berhenti di sebuah pub. Gongchan mulai khawatir kenapa Jiyeon bisa masuk ke pub itu. Karna penasaran dan rasa khawatirnya, Gongchan mengikuti Jiyeon masuk ke dalam pub.

Plaaakk…

“Jadi,,seperti ini kau di belakangku, huh??” Jiyeon menampar wajah Min Woo dengan keras dan mulai meneteskan air matanya.

“Chagia, jamkkanman, aku bisa jelaskan padamu”

“Anhi…tidak ada yang harus kau jelaskan lagi, sudah cukup jelas bagiku, bahwa kau bukan pria baik-baik, ini ku kembaliakn kalungmu, aku tidak sudi memakainya” Jiyeon melemparkan kalung pemberian Min Woo tepat ke wajahnya, dan dia berlari keluar dengan air mata yang mulai mengalir dengan deras.

“Hei..My bee,,kau sangat jelek kalo menangis seperti itu” Gongchan masih mengikuti Jiyeon dari belakang saat dia keluar dari pub tadi.

“No? Kenapa kau bisa ada di sini??” Jiyeon menoleh ke belakang dan masih menangis terisak.

“Babo….pantas saja si brengsek itu bisa mengkhianatimu, kau memang wanita bodoh yang mudah di bohongi” ucap Gongchan datar.

“No…?? Kalo kau ingin membuat aku semakin menangis lebih baik sekarang kau enyah dari hadapanku, aku ingin sendiri” Jiyeon kembali berjalan.

“Baiklah, aku pergi..” tanpa berkata sepatah katapun lagi, akhirnya Gongchan benar-benar pergi meninggalkan Jiyeon.

Jiyeon kembali menoleh ke belakang, dan Gongchan sudah berjalan menjauh darinya.

Akhirnya sekarang Jiyeon yang mengikuti Gongchan diam2.

“Mwo?? Kenapa dia masuk ke dalam pub itu??” Jiyeon di buat penasaran, dan dia dengan hati-hati mengikuti Gongchan sampai masuk ke dalam Pub.

Sampai akhirnya Jiyeon melihat Gongchan mengganti pakaiannya dengan seragam pelayan.

“Omoo..apakah mungkin diaaaa, bekerja di sini sebagai pelayan??” batin Jiyeon tidak menyangka ternyata selama ini dia sudah terlalu jauh dari Gongchan sampai-sampai dia tidak tau kalo sahabatnya itu bekerja sebagai pelayan di sebuah pub.

Pukul 24.00

Gongchan bersiap-siap untuk pulang, dia keluar dari pub dan berjalan meuju halte bis.

“Mian…”

Gongchan menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.

“Jiyeon-ah, kau sedang apa di sini??”

“Babo, tentu saja daritadi aku menunggumu pulang”

“Mwo?? Kauuu, menunggu aku pulang?? Jadi sejak tadi siang kau ada di sini??”

“Kau tidak lihat aku masih pakai baju yang tadi siang, huh??”

Dalam hati Gongchan sangat sedih karna ternyata Jiyeon sampai menunggunya pulang, tapi Gongchan juga tidak mau langsung memperlihatkan rasa sedih dan khwatirnya terhadap Jiyeon, karna dia ingat, beberapa hari laluJiyeon sedang marah padanya.

“Salahmu sendiri, aku tidak menyuruhmu menunggu kan??” Gongchan kembali berjalan.

“Yaaa..kau ini tidak berterima kasih, aku sudah menunggumu semalaman tapi kau malah meninggalkanku”

Gongchan tidak menjawab, dia hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh ke arah Jiyeon yang masih ada di belakangnya.

“Yaa..Chanie-ah, kau marah padaku, huh?? Aku kan sudah minta maaf..Ya Gongchan Shik..” Jiyeon mulai marah karna Gongchan tetap tidak menghentikan langkahnya.

Keesokan harinya…

“Channie-ah, aku boleh duduk di sini lagi kan??” Jiyeon masih menggendong tas nya dan sekarang sedang menunggu jawaban dari Gongchan.

“Lakukan apa yang kau suka” jawab Gongchan datar.

“Gomawo..” Jiyeon tersenyum dan langsung duduk di sebelah Gongchan.

Jiyeon tidak menghiraukan Min Woo yang sedari tadi menatapnya. Jiyeon benar-benar marah, dia tidak ingin lagi bicara dengan Min Woo, bahakn dia tidak membalas atau mengangkat telfon dari Min Woo yang meminta maaf padanya.

***

Musim salju di Korea telah tiba, hubungan Jiyeon dan Gongchan juga sudah kembali baik, bahkan belakangan ini hubungan mereka lebih dekat lagi. Jiyeon sering mengantar makanan ke tempat kerja Gongchan saat Gongchan istirahat.

“Hei..my bee, besok kau ada acara??”

“Anhi, wae?”

“Besok datanglah ke alamat ini, sore hari jam 4 aku tunggu, ara??”

“Hmm..memangnya ada apa??”

“Sudah jangan banyak bicara, datang saja, dan jangan terlambat, awas kalo kau terlambat”

“Hmm..memang kalo aku terlambat kau akan lakukan apa padaku, huh??”aku akan menciummu, Gongchan memukul kening Jiyeon dan langsung beranjak.

Dag..Dig..Dug…

“Astaga, apa ini, kenapa jantungku berdebar seperti ini saat dia berkata seperti itu, padahal aku tau dia berkata seperti itu pasti hanya bercanda, kan?? Dan barusan dia memukul keningku seperti biasa, tapi aku tidak merasakan sakit sedikitpun?? Aiisshh…apa yang sedang aku rasakan sebenarnya??” Jiyeon berbicara pada dirinya sendiri dalam hati.

“Ya…kenapa melamun seperti itu?? Cepat pulang sudah sore, nanti Ibumu mengkhawatirkanmu”

“Ah..ye,,kalo begitu aku pulang yah”

“Ne…hati2 lah..”

***

Jiyeon kebingungan akan memakai baju apa hari ini untuk pergi dengan Gongchan. Dia mengeluarkan hampir semua bajunya yang ada di lemari.

“Astaga apa ini bisa di namakan dengan kencan?? Apa Gongchan kemarin bermaksud mengajakku berkencan hari ini?? Lalu kenapa sekarang aku begitu senang?? Dan kebingungan setengah mati untuk memilih baju saja?? Ya Tuhaaaaannnn…” Jiyeon membaringkan tubuhnya di kasur dengan sprei Strawberry nya itu.

Di taman…

“Kau terlambat 5 menit” Gongchan melihat ke arah jam tangannya saat Jiyeon tiba di sebuah taman yang di maksud Gongchan.

“Yaa….tadi macet sebentar, makannya aku datang terlambat” Jiyeon membenarkan posisi upluk yang dia pakai.

“Musim salju seperti ini, kenapa kau mengajakku ke tempat seperti ini???” Jiyeon duduk di sebelah Gongchan dengan tubuh yang mulai kedinginan.

“Aku hanya ingin memberikanmu sesuatu”

“Apa itu??”

Gongchan memberikan paper bag berisikan sebuah kotak yang dia bawa untuk Jiyeon.

“Bukalah..”

Jiyeon mengeluarkan kotak itu dan membukanya.

“Syal??” Jiyeon mengeluarkan isi dari kotak itu.

“Yah,,aku hanya ingin memberikan syal yang sengaja aku rajut sendiri ini khusus untukmu, karna sekarang sedang musim salju, dan aku tau kau sangat suka dengan musim salju, jadi kalo kau keluar pada saat musim salju tiba, kau harus selalu ingat untuk memakai syal ini, ara??” Gongchan melingkarkan syal itu pada leher Jiyeon.

“Gomawo…channie-ah…”

Gongchan dan Jiyeon saling menatap, dan wajah mereka pun semakin mendekat, akhirnya Gongchan mendaratkan ciuman nya di bibir manis Jiyeon.

@School

Gongchan tiba-tiba merasakan pusing di kepalanya, hidungnya mengeluarkan darah saat dia pergi ke toilet. Gongchan benar-benar tidak kuat menahan rasa sakit di kepalanya itu.

“Chanie-ah..apa kau di dalam??” Jiyeon mengetuk pintu kamar mandi di mana Gongchan ada di dalamnya karna Jiyeon khawatir kenapa dia pergi ke toilet lama sekali.

“Ye..aku di dalam” tidak lama kemudian Gongchan keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sangat pucat.

“Omo..chanie-ah, wajahmu pucat sekali?? Kau sakit yah??”

“Ah…anhi, perutku sakit sekali, tadi aku berkali-kali membuang air, jadi mukaku pucat seperti ini karna lemas”. Gongchan berbohong, dia mencoba menyembunyikan rasa sakit di kepalanya.

Sudah beberapa hari ini di sekolah ataupun di tempat kerjanya, Gongchan sering mengeluarkan darah dari hidungnya dan merasakan pusing di kepalanya. Tapi dia selalu berusaha untuk menyembunyikannya dari Jiyeon. Hingga akhirnya Gongchan memeriksakan dirinya ke Dokter dan ternyata hasil dari diagnosa Dokter, Gongchan di vonis terkena leukeumia stadium 2. Spontan itu membuat Gongchan sedih, tapi tidak membuatnya heran, karna dia tau itu pasti penyakit turunan dari Ayahnya, karna dulu pun Ayahnya meninggal karna penyakit yang sama.

Sebelum pergi ke Dokter, Gongchan dan Jiyeon sudah berjanji untuk bertemu di tempat kerja Gongchan. Jiyeon seperti biasa membawa bekal untuk Gongchan yang sekarang ini sudah menjadi kekasihnya itu.

“Yobo..aku datang..”

Gongchan tidak menjawab , dia mengacuhkan Jiyeon.

“Yobo…kau kenapa?? Eh..lihat hari ini aku membuatkan bekal yang special untukmu” Jiyeon membuka tempat makannya, hari ini Jiyeon membuatkan bekal yang berbeda dari biasanya, dia membentuk bekalnya seperti wajah yang mirip dengan wajah Gongchan.

“Aku tidak mau makan..” ucap Gongchan dengan nada marah.

“Tapi aku khusus membuatkan ini untumu”

“Aku bilang aku tidak ingin makan, ara??” Gongchan membentak Jiyeon dan sontak itu membuat Jiyeon tidak percaya, untuk pertama kalinya Gongchan membentaknya.

Jiyeon menyimpan bekalnya yang di bawa untuk Gongchan, dia langsung berlari pergi meninggalkan Gongchan, tapi Gongchan tidak berusaha untuk mengejarnya. Dia mengambil bekal yang di bawa Jiyeon, dia membukanya dan tersenyum sambil menangis melihat bentuk dari bekal itu, wajah yang mirip dengannya.

“Mianhae, My bee, choengmal mianhae” Gongchan tidak sanggup menahan tangisnya.

Keesokan harinya…

“Jiyeon-ah, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu” Gongchan menghampiri Jiyeon di taman sekolah.

Jiyeon tidak menjawab, dia tetap membaca buku yang di bacanya saat itu, dia masih marah atas kejadian kemarin.

“Aku tidak peduli kau mau bilang apa, dan kau mau marah atau tidak, yang jelas aku hanya ingin mengatakan, lebih baik kita berpisah saja, aku sedang banyak masalah dan banyak pikiran, jadi aku tidak mau menambah beban pikiranku karnamu”

Jiyeon langsung menoleh ke arah Gongchan.

“Apa?? Kau bilang kita berpisah saja?? Dan kau bilang aku jadi beban pikiranmu?? Huh…benar2 alasan yang tidak logis. Aku tau jelas selama ini kita tidak pernah ada masalah apapun, tapi kenapa tiba2 kau….”

“Aku bilang aku tidak peduli kau mau bilang apa, yang jelas keputusanku sudah bulat, kita berpisah saja” tanpa menunggu jawaban dari Jiyeon, Gongchan langsung beranjak dan pergi meninggalkan Jiyeon yang menagis terisak tak percaya dengan apa yang di katakan Gongchan padanya.

@Gongchan’s House

Tok..Tok…Tok..

Gongchan membuka pintu rumahnya dan ternyata Jiyeon yang datang.

“Mau apa kau ke sini??”

“Tch…apakah kau benar-benar merasa jijik melihatku sekarang?? Aku ke sini hanya ingin mengembalikan semua ini padamu” Jiyeon menyerahkan dus pada Gongchan yang berisi barang-barang yang pernah di berikan Gongchan padanya.

“Gomawo….Hanya ingin mengembalikan ini, kan?? Jadi sekarang kau sudah bisa pulang, aku mau istirahat” Gongchan benar-benar tidak mampu menahan rasa sakitnya mengatakan hal itu pada orang yang sangat dia cintai, mungkin rasa sakit karna penyakitnya belum seberapa di banding rasa sakit hatinya karna harus membohongi perasaannya sendiri.

Jiyeon berjalan pulang dengan linangan air mata yang tak terbendung. Dia benar-benar tidak percaya, orang yang selama ini tidak pernah marah padanya, selalu membuatnya tersenyum, selalu menuruti semua permintaan-permintaannya, tapi sekarang dia seolah telah berubah menjadi orang lain, Gongchan yang baru saja 2 minggu menjadi pacarnya, kini sudah berubah seperti orang asing bagi Jiyeon.

4 tahun kemudian…

Setelah menjalani kuliahnya di luar negeri selama 4 tahun ini, Jiyeon memutuskan untuk kembali ke Korea, tepat di musim salju tiba. Setelah tiba di bandara dia tidak langsung pulang ke rumahnya, tapi dia mengunjungi sebuah tempat yang sangat dia rindukan.

Taman, yang dulu pernah dia datangi bersama Gongchan di musim salju 4 tahun yang lalu. Jiyeon berjalan menelusuri taman itu, tidak terlalu banyak perubahan, Jiyeon senang karna tempat duduk yang dulu pernah dia dan Gongchan duduk di sana, masih ada. Tapi belum Jiyeon duduk di kursi itu, dia kaget melihat ada boneka yang di lingkari sebuah syal di lehernya dan Jiyeon mengambilnya.

“Bukankah ini…Ini boneka lebah yang dulu di berikan Chanie saat aku berulang tahun ke 17?? Dan syal ini, syal yang diberika Chanie di musim salju beberapa athun yang lalu di sini?? Jangan..jangan…..” Jiyeon berlari kembali menelusuri jalan taman itu dengan arah yang berlawanan saat dia datang tadi.

Langkahnya terhenti saat dia melihat sesorang yang sedang memakai kursi roda dan di dorong oleh seorang wanita yang sudah cukup tua.

“My beetle….” Jiyeon berteriak memanggil Gongchan dan langsung menghampirinya.

“Kau..?? Kau kenapa?? Apa yang terjadi padamu?? Ahjumma, Channie kenapa?? Kenapa dia memakai kursi roda??” Jiyeon bertanya pada Ibu Gongchan yang saat itu menemani Gongchan kembali ke taman itu.

“Jiyeon-ah….” Ibu Gongchan memeluk Jiyeon dan menangis tersedu-sedu, Gongchan pun mulai meneteskan air matanya.

***

Ternyata 4 tahun lalu, saat Gongchan di vonis Dokter terkena Leukeumia, dia memutuskan untuk membuat Jiyeon membencinya, karna dia tidak mau Jiyeon akan terluka nantinya jika dia tiba2 harus meninggalkan Jiyeon, dan dia juga tidak mau Jiyeon ikut merasakan kesakitannya dengan penyakit yang menderanya. Dokter bilang jika Gongchan ingin hidupnya agak lama, Gongchan harus di ambil sum sum tulang belakangnya, namun pilihannya jika sudah di ambil sum sum tulang belakang adalah Gongchan akan menajdi idiot atau lumpuh, dan ternyata Tuhan mentakdirkan Gongchan menjadi lumpuh.

Gongchan datang lagi ke tempat itu awalanya berniat untuk meninggalkan kenangannya bersama Jiyeon di sana karna dia tau umurnya tidak akan lama lagi, tapi ternyata takdir akhirnya justru mempertemukan mereka kembali di sana.

Jiyeon sedih bukan kepalang saat tau yang sebenarnya, apa alasan Gongchan dulu mau berpisah dengannya. Jika dia tau hal itu dari awal, mungkin dulu dia tidak akan memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke Luar Negeri saat lulus SMA dan tidak meninggalakn Gongchan menderita sendirian denagn penyakitnya.

Tapi Jiyeon senang dia belum terlambat untuk bisa ikut menemani detik-detik terakhir Gongchan. Setelah pertemuan mereka kembali di taman itu, Jiyeon memutuskan untuk merawat Gongchan, dengan penuh kesabaran dan kasi sayang, Jiyeon setia menemani Gongchan. Hingga akhirnya 2 minggu kemudian, Gongchan benar-benar pergi untuk selamanya.

Saat pemakaman, Jiyeon mengelus nisan yang bertuliskan nama Gongchan, dia tersenyum, dia rela melepaskan Gongchan pergi, karna setidaknya dia senang pernah ada menemani hidup Gongchan meski di saat-saat terakhirnya. Dan Jiyeon juga merasa itu yang terbaik karna dengan begitu Gongchan tidak akan lagi merasakan sakit karna penyakitnya yang semakin menggerogoti tubuhnya. Jiyeon yakin Gongchan pasti sudah beristirahat dengan tenang di alamnya.

“Selamat Jalan My Beetle, aku tau kau pasti sudah bahagia sekarang di sana…Aku akan tetap selalu mencintaimu….”

~ END ~

Your coMmenT is so pReciOus...^0^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s